Home

Sejarah Kekaisaran Romawi ‘Suci’

download
Pada sekitar Desember 406, suku-suku Germanik, termasuk suku Vandal, Alan, dan Suevi, melalui sungai Rhines yang membeku, mulai melintasi limes Belgica, batas terluar Kekaisaran Romawi Barat, dan memasuki daerah Gaul (Perancis sekarang). Memang saat itu Kekaisaran Romawi Barat sedang lemah-lemahnya. Ini menyebabkan suku-suku Germanik ini berhasil menguasai secara de facto wilayah Gaul dan membagi-baginya di antara mereka sendiri. Meski secara resmi baru jatuh pada tahun 476, Kekaisaran Romawi Barat mulai kehilangan kuasa di daerah Gaul dan Iberia (Spanyol sekarang). Wilayah ini dibagi sesuai dengan suku Germanik yang berkuasa. Suku Visigoth mendapatkan Aquitania (bagian Perancis sekarang), Provence (bagian Perancis sekarang), dan Iberia (sebagian Iberia dikuasai suku Suebi/Suevi). Suku Burgundi menguasai Lembah Rhone (yang akan menjadi Duchy of Burgundy). Suku Vandal berkuasa hingga ke Afrika Utara. Suku Ostrhrogoth di Italia. Suku Alamanni menduduki Alsace (bagian Perancis sekarang). Suku Saxon (bukan Germanik, dari Inggris) mendapatkan Almorica (sekarang Britanny, bagian Perancis).

Setelah berhasil mendirikan komunitas Kristen di Lugdunum (Lyons sekarang) pada tahun 117, iman Kristen dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah Gaul. Pada tahun 250, terdapat 30 tahta Keuskupan. Pada tahun 400an, praktis semua kota besar memiliki uskup mereka sendiri. Saat ini iman Kristen mendapatkan kejayaan yang luar biasa. Kejayaan ini mendapatkan tantangan ketika suku Germanik memasuki Kekaisaran Romawi. Para perwira Romawi mencari selamat sendiri-sendiri dan mangkir dari tugas mereka. Struktur peradaban yang dibangun oleh Kekaisaran Romawi Barat hancur dan terlupakan. Sekarang Gereja mendapatkan tanggung jawab berat. Sebagai pemimpin satu-satunya institusi peradaban manusia yang tertinggal, para uskup mengambil peran pemimpin sipil dan administrasi. Uskup-Uskup, seperti Sidonius Apollinaris, Avitus, Germanus of Auxerre, Caesarius of Arles, dipandang sebagai defensores civitatum (pembela kota). Para uskup berusaha mempertahankan struktur masyarakat agar tidak terjadi kekacauan. Selain itu, para uskup ini juga menanggung beban melindungi rakyat jelata dari kepala-kepala suku Germanik (yang disebut reges crinite, raja berambut panjang) yang kini menjadi penguasa mereka. Di sisi lain, kepala suku Germanik pun memerlukan para uskup yang berperan jembatan antara penguasa dan rakyat “taklukan”. Ini suatu tugas yang riskan dan beresiko bagi para uskup yang harus tetap menjalan kewajiban keagamaan mereka.

Masalah tidak berhenti di situ. Beberapa suku Germanik, seperti Goth (yang terdiri dari Visigoth dan Osthrogoth) dan Vandal menganut Arianisme, yang disebarkan oleh Ulfilas. Suku Germanik lainnya menganut paganisme. Suku-suku Goth dan Vandal ini menekan Gereja, mengusir para uskup, mengambil alih tanah Gereja, menganiaya rakyat yang dipandang sebagai musuh Arianisme, dan menerapkan liturgi Arian. Kapanpun bila konsidinya memungkinkan, etinggi-petinggi Gereja tampil sebagai mediator yang menjembatani kepentingan kedua pihak, misalnya pada Konsili Agde untuk suku Visigoth pada tahun 506. Ketika perwira Romawi terakhir yang bertahan di Gaul, Syragius of Soissons, dikalahkan pada tahun 486, jelas bahwa harapan kebangkitan peradaban (Romawi) pupus.

Satu-satunya cara mempertahankan kebudayaan sebelum luntur oleh suku barbar ini adalah “menjinak” mereka. Tujuan ini terbentur oleh perbedaan paham yaitu kaum Vandal dan Goth penganut Arian sementara rakyat yang membawa kebudayaan menganut Kristen. Satu-satunya cara adalah menobatkan suku Vandal dan Goth ini. Bila mereka memeluk iman Kristen yang benar, mereka akan berasimilasi dan dengan demikian dapat belajar kebudayaan dari rakyat taklukan mereka sehingga kebudayaan dapat dipertahankan.

Rupanya Tuhan memang mempercayakan tugas besar dan berat ini ke tangan Gereja. Ada satu suku Germanik yang tetap mempertahankan paham pagan mereka. Suku ini adalah suku Frank. Mereka awalnya mendiami daerah Toxandria. Secara bertahap suku ini mengalami perkembangan dan perluasan wilayah. Mereka-lah yang mengalahkan Syragius of Soissons.  Hingga pada tahun 450an, praktis mereka menguasai seluruh Belgia Secunda (Belgia sekarang). Pemimpin mereka bernama Childeric, yang meninggal pada sekitar tahun 481an. Dia digantikan oleh Clovis.

Clovis, naik tahta saat berumur 15 tahun, memperluas wilayah suku Frank dan memperkokohnya. Sekarang wilayah Frank terbentang dari Soissons di utara hingga ke perbatasan wilayah Visigoth dan Burgundi di selatan. Di tangan Clovis lah, segala sesuatunya berubah. Clovis menikah dengan Clotilde, dari suku Burgundi. Clotilde beragama Katolik dan bersikeras anak pertama mereka dibaptis secara Katolik. Clovis juga mendapat pengaruh dari teladan rakyat jajahannya yang beragama Katolik. Uskup Remigius of Rheims juga rupanya berperan mengingat dia pernah menyurat sang raja mengenai beberapa saran dalam pemerintahan. Dari diri sendiri, Clovis juga ingin menyamakan dirinya sebagai sosok pemimpin dengan rakyat jajahannya yang berpaham Katolik. Tetapi peran Clotilde inilah yang terbesar sebagaimana yang dilaporkan oleh Uskup Nicetus of Trier dan Gregory of Tours.

Detail tentang pembaptisan Clovis tidak jelas. Dia dibaptis entah di Rheims atau Tours, entah pada tahun 496 atau 498. Meski tidak mewajibkan pengikutnya, suku Frank, untuk dibaptis, banyak di antara mereka yang memberikan dirinya dibaptis. Kini suku Frank lebih mudah mengadakan asimilasi dan menyerap kebudayaan. Sekarang Gereja lebih terbuka dan dapat bekerja sama dengan pemimpin suku Frank dalam mengatur masyarakat. Sekarang masyarakat lebih bersatu termasuk dalam menghadapi suku Visigoth yang berpaham Arian.

Suku Frank mendapat kemenangan atas Visigoth pada pertempuran Vogladensis (Vouille) pada tahun 507. Kini suku Frank mendapatkan Aquitania. Clovis kemudian menetapkan Lutetia (Paris sekarang) sebagai ibukota. Antara tahun 507-508, clovis mendapatkan gelar “Konsul” dari Kaisar Romawi Timur, Anasthasius. Ini bearti Clovis berhak menggunakan materai kerajaan Romawi.

Clovis memposisikan diri sebagai pelindung Gereja Katolik. Dia memberikan banyak tanah ke Gereja, bahkan mengadakan Konsili pada 511 yang mempercepat pertobatan kaum Arian terutama yang berada di Aquitania. Pada pendahuluan Pactus Legalis Salicae, kitab hukum regnum Francorum, Clovis menceritakan tahap pertobatannya ke iman Katolik. Kitab hukum ini merupakan hasil konsultasi erat Clovis dengan para uskup.

Setelah kematian Clovis di tahun 511, raja Frank dinasti Merovingian terus mendukung Gereja Katolik dengan menghapus pajak, memberikan tanah dan memberi hak pada Gereja untuk memungut pajak di tanah Gereja. Asimilasi suku Frank dan rakyat jajahan terus terjadi. Mereka berbicara dengan bahasa rakyat lokal yaitu Latin pasaran. Mereka memeluk iman yang sama dengan rakyat jajahan mereka, Katolik. Suku Frank benar-benar berasimilasi membentuk suatu kebudayaan campuran yang mewarisi kebudayaan Romawi. Di tengah-tengah ini semua, Gereja berdiri sibuk mengatur segalanya demi kebaikan bersama tanpa melupakan tugas utamanya membawa Injil ke dunia. Kebudayaan bertahan dari kehancuran akibat ke-barbar-an. Gereja Katolik tidak akan pernah terpisah dari sejarah Eropa di mana Gereja adalah pemain utama dalam menentukan seperti apa Eropa itu. Di tengah-tengan usaha Gereja Katolik hidup berdampingan dan menginjili suku Barbar, Tuhan hadir menyertai Gereja dan menunjukkan bahwa Ia berkuasa atas segala sesuatu, bahkan yang mustahil bagi manusia dan Ia tidak pernah meninggalkan Gereja.

Setelah  Gereja berhasil “menjinakkan” suku Frank. Sekarang mari kita lihat episode selanjutnya dari kerajaan yang, bersama Gereja Katolik, sangat berperan dalam sejarah Eropa. Pada tahun 561, Clothar I, anak Clovis I dan Clotilde, pasangan Katolik pertama dari suku Frank telah berhasil memperluas daerah kekuasaan ayahnya. Wilayah kekuasaan suku Frank disebut Kerajaan Frankia (Regnum Francorum, Frankish Kingdom). Keturunan Clovis I disebut dinasti Merovingian.

Suku Frank memiliki tradisi unik, yaitu kerajaan ayah akan dibagi-bagi di antara anaknya (partible inheritance). Kerajaan Frankia dipandang sebagai satu ranah yang diperintah sekaligus oleh beberapa raja. Meski kakak beradik, para raja sedarah ini sering bersaing. Bila salah seorang raja mati, wilayahnya akan dibagi di antara keturunannya. Bila keturunannya juga habis tidak tersisa, wilayah kekuasaan raja ini akan dibagi di antara saudara-saudara yang masih hidup. Tradisi ini akan berperan nantinya.

Kekuasaan dinasti Merovingian berakhir setelah Charles Martel naik pamor ke panggung para elit suku Frank. Charles Martel tidak termasuk dinasti Merovingian. Charles Martel tidak dipilih menjadi raja tetapi dia memegang kekuasaan layaknya raja. Keturunan Merovingian yang tersisa tidak mampu menandingi kekuasaan Martel. Hal yang perlu diingat mengenai Charles Martel adalah dia mengalahkan dan menahan laju invasi tentara Islam yang datang dari Semenajung Iberia pada Pertempuran Tours (atau Poitiers, 732). Charels Martel mewariskan kekuasaannya (seakan-akan dirinya raja) kepada anak-anaknya menurut partible inheritance. Di antara keturunan Martel pun terjadi persaingan antara sesama saudara sedarah. Yang berhasil keluar sebagai “pemenang” adalah Pepin Si Pendek (Pepin The Short).

Pepin dipilih menjadi raja. Ada suatu aturan dalam suku Frank di samping partible inheritance, yaitu para pemimpin pasukan (seiring waktu akan disebut elector) memiliki hak memilih raja tandingan bila raja yang sebenarnya dipandang tidak layak. Keturunan Merovingian memang adalah pewaris tahta tetapi sejak masa Martel telah dipandang tidak layak. Akhirnya Pepin Si Pendek dipilih sebagai raja. Yang perlu diingat akan Pepin Si Pendek adalah dia menaklukkan beberapa daerah di Italia Tengah dan memberikannya kepada Paus (Donation of Pepin). Inilah yang menjadi Papal States dan kemudian Vatican City. Saya akan membahas di artikel terpisah.

Hari Natal tahun 800 menandai suatu perubahan penting. Paus memahkotai Charles Agung, anak Pepin Si Pendek, bukan hanya sebagai raja Frank tetapi sebagai Kaisar Romawi. Ini menandai suatu dinasti baru suku Frank, dinasti Carolingian (nama Latin Charles Agung adalah Carolus Magnus). Kini saya akan merujuk Kerajaan Frankia dengan istilah Kekaisaran Frankia. Charles Agung berhasil memperluas kekaisarannya tapi sayang dia meninggal pada tahun 814. Di antara keturunan Charles Agung hanya satu yang berhasil bertahan hidup. Dia adalah Louis I. Setelah kematian Louis, Kekaisaran Frankia mengikuti tradisi lama yaitu partible inheritance.

Perjanjian Verdun 843 membagi kekaisaran menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Frankia Barat (West Francia, kira-kira Perancis sekarang) dipimpin oleh Charles II the Bald,
  2. Frankia Timur (East Francia, termasuk Saxony, Bavaria, dan Swabia) dikuasai oleh Louis II of German,
  3. Frankia Tengah (Lotharingia, Burgundi dan utara Italia) dimiliki oleh Lothair II, yang juga mewarisi gelar Kaisar.

Ingat gelar Kaisar hanya gelar. Bagi suku Frank, tidak ada masalah ada beberapa raja  yang sama-sama berdaulat memerintah sekaligus. Daerah mereka secara keseluruhan masih disebut Kekaisaran Frankia. Tiga dekade kemudian daerah Frankia Tengah tidak memiliki penerus. Menurut tradisi suku Frank, wilayah tanpa penerus akan dibagi ke saudara-saudara raja yang terakhir memerintah. Frankia Tengah pecah menjadi dua, yaitu Lotharingia masuk Frankia Timur, dan sisanya menjadi daerah Frankia Barat. Gelar Kaisar diserahkan pada penguasa Frankia Timur. Kedua bagian yang tersisa inilah yang menurunkan negara modern. Frankia Barat menjadi Perancis dan Frankia Timur menjadi Jerman.

Pada tahun 911, keturunan terakhir Charles Agung di Frankia Timur meninggal. Ini menandai berakhirnya dinasti Carolingian. Sekarang para pemimpin memilih seorang Kaisar. Para pemilih ini disebut elector. Para elector ini akan berperan dalam Reformasi Protestan. Para elector Frankia Timur memilih Conrad of Franconia sebagai Kaisar. Sebelum meninggal pada tahun 918, Conrad berhasil mengatur Duke Henry I of Saxony sebagai penerusnya.

holy roman empire

Dinasti baru muncul, Ottonian. Kaisar pertama adalah Otto I yang dimahkotai pada tanggal 2 Februari 962. Sebenarnya gelar resmi para kaisar saat ini hanyalah Kaisar Romawi. Penambahan kata ‘suci’ terjadi belakangan. Yang perlu diingat dari Kaisar Otto I ialah kemenangannya atas suku Magyar pada Pertempuran Lechfeld (955). Dengan kemenangan ini, Kekaisaran Romawi Suci menguasai Italia dan berhasil menjamin keamanan Paus dan keberlangsungan kebudayaan Romawi. Ada yang memandang Kekaisaran Romawi Suci baru dimulai setelah pemahkotaan Otto I, meski sebenarnya harus diingat Charles Agung telah dimahkotai sebagai Kaisar Romawi.

Dinasti Ottonian beakhir pada Kaisar Henry II yang meninggal pada tanggal 13 Juli 1024. Dinasti Ottonian digantikan oleh Dinasti Salian, dengan dimahkotainya Conrad II of  Franconia sebagai kaisar.Yang patut diingat dari dinasti Salian ini adalah Kaisar Henry IV yang bersengketa dengan Paus Gregory VII. Perseteruan yang diberi nama Investure Controversy ini akan saya bahas terpisah. Dinasti Salian berakhir pada saat kematian Kaisar Henry V pada 23 Mei 1125. 

Para elector memilih Conrad III of Franconia sebagai kaisar. Dinasti Houhenstaufen dimulai. Yang patut diingat dari dinasti ini adalah Kaisar Frederick I of Barbarossa yang mati tenggelam dalam Perang Salib. Penambahan kata ‘suci’ terjadi pada masa Kaisar Frederick I of Barbarossa. Sekarang nama kekaisaran ini menjadi Kekaisaran Romawi Suci (Holy Roman Empire).

Setelah dinasti Houhenstaufen, ada dinasti Wittelsbach, Luxemburg dan Habsburg. Dinasti Habsburg perlu diingat, selain menjadi dinasti yang terakhir, karena di tangan Kaisar Charles V of Habsburg, Reformasi Protestan terjadi. Kaisar Charles V membuat banyak hal penting. Saya akan membahasnya terpisah.

Pada Agustus 1806, Kekaisaran Romawi Suci berakhir setelah berjalan selama 1000 tahun di tangan Kaisar Francis II of Habsburg, yang dikalahkan oleh Napoleon. Selama 113 tahun, sisa-sisa kerajaan besar ini masih berlanjut sebagai Kekaisaran Austro-Hungarian. Setelah melewati masa pemerintahan Kaisar Franz-Joseph yang lama (1848-1916), kekaisaran ini berakhir di tangan Kaisar Karl I.

%d bloggers like this: