Home

Sebenarnya Perang Salib itu apa?

Hayez,_Fracesco_-_Crusaders_Thirsting_near_Jerusalem_-_1836-50

Untuk mengerti Perang Salib kita perlu menilai peristiwa yang menyebabkannya. Sejak legalisasi Kristianitas di awal tahun 300, orang Kristen Eropa mulai melakukan ziarah ke Palestina untuk mengunjungi situs kudus yang berhubungan dengan hidup Tuhan. Ziarah ini adalah bentuk kesalehan yang besar karena pada jaman tersebut perjalanan ke Tanah Suci adalah sulit, memakan waktu lama, mahal dan berbahaya. Beberapa peziarah membutuhkan bertahun-tahun untuk selesai. 

Orang Kristen juga pergi ke Siria, Palestina dan Mesir untuk hidup seperti pertapa. Ini adalah jaman dimana kehidupan membiara berbuah banyak, dan banyak orang Kristen yang ingin pergi ke Tanah Suci untuk hidup sebagai pertapa. Mereka juga mengalami kesulitan-kesulitan dalam perjalanan mereka. Bagi para peziarah dan mereka yang ingin menjadi pertapa, ada satu faktor yang membuat mudah perjalanan mereka: Jalan menuju Palestina membentang melalui wilayah Kristen. 

Pada tahun 612, Mohammad orang Arab, anak dari Abdallah, dilaporkan menerima panggilan kenabian dari Allah melalui malaikat Jibril. Pada awalnya dia mendapatkan beberapa pengikut. Namun, setelah diusir dari tempat kelahirannya, yaitu Mekah, dia berlindung di kota Madina dimana saat itu pengikutnya bertambah. Mengibarkan kampanye militer, Mohammad menaklukkan beberapa suku kafir, Yahudi dan Kristen dan dia juga berhasil mengambil alih tempat kelahirannya, Mekah, dan juga Arabia. Dia meninggal pada tahun 632. 

Seiring dengan matinya Muhammad, penerus Muhammad, para kalifah, meneruskan kampanye ekspansi yang agresif. Kurang dari satu abad mereka telah mengambil alih, antara lain, Siria, Palestina dan Afrika Utara. Meskipun sekarang kita menganggap wilayah tersebut adalah wilayah Islam, tapi pada waktu itu wilayah tersebut adalah Kristen. Dikatakan bahwa bangsa Arab yang berekspansi telah mencaplok setengah dari peradaban Kristen. Bahkan Eropa sendiri terancam. Arab mengambil alih Spanyol Selatan, menginvasi Prancis dan bahkan mengancam untuk menginvasi Roma. 

Perang Salib sering digambarkan sebagai usaha orang Kristen Eropa untuk menduduki tanah Islam, yaitu Timur Tengah. Orang Islam sendiri digambarkan sebagai pihak yang cinta damai. Ini adalah gambaran yang salah. Secara historis, sebagian daerah Timur Tengah adalah tanah Kristen. Meski propaganda Islam mengatakan bahwa agama Islam adalah agama damai, kenyataannya tidak demikian. Islam berkembang melalui peperangan. Pada saat kelahiran Islam pada abad ke 7, Muhammad memimpin perang di Jazirah Arab. Pasukan Arab menghadapi dua kerajaan besar dunia waktu itu yang saling berperang, Byzantium dan Persia. Byzantium didominasi oleh Kristen sedang Persia oleh Zoroaster. Kerajaan Persia berhasil ditaklukkan dan terserap ke dominasi Islam. Zoroaster sekarang tinggal dijalankan oleh sejumlah kecil keluarga. Sekarang tujuan invasi Islam tinggal satu yaitu Byzantium. Seluruh pasukan Byzantium di Timur Tengah dikalahkan oleh pasukan Arab pada tahun 636 dan Yerusalem jatuh pada tahun 638.

Pada abad ke 8, bangsa Arab, sambil membawa panji Islam, telah menaklukkan seluruh Afrika Utara, yang sebelumnya didiami orang Kristen. Penduduk Afrika Utara, bangsa Berber, yang sebelumnya Kristen sekarang menjadi Islam. Bahkan pasukan Berber pada tahun 711 telah mendarat di daratan Spanyol atas nama Kekhalifahan Umayyad (Arab) dan menghancurkan pasukan Kristen Visigoth. Pada tahun 712 mereka telah mencapai jantung Semenanjung Iberia. Pada tahun 730, pasukan Berber (ditambah pasukan Arab yang datang belakangan) ini telah memasuki jantung Perancis. Mereka akhirnya dapat ditahan oleh Charles Martel di Pertempuran Tours (Poitiers) pada tahun 732.

Kisah penaklukan dunia oleh orang Islam tidak berhenti di sana. Pada abad ke 8, bangsa Arab telah menguasai Sisilia (bagian Italia sekarang) dan beberapa pulau Mediterania. Pada abad ke 11, dunia Islam dipimpin oleh bangsa Turki (Kesultanan Seljuq), yang telah menaklukkan Asia Kecil (Republik Turki sekarang), yang juga merupakan wilayah Kristen. Semua wilayah Kristen ini (kecuali Spanyol dan Perancis) adalah wilayah Byzantium dulunya. Kerajaan Byzantium yang dulunya luas sekarang hanya tersisa sedikit. Bahkan Kerajaan Byzantium sekarang menghadapi masalah besar yaitu pasukan Islam yang berkemah di luar ibukota Constantinople. Penguasa Konstantinople meminta bantuan kepada kerajaan Eropa lainnya. Paus Urban II menjawab pada Konsili Clermont 1095 dengan meminta para ksatria Eropa untuk membantu Byzantium. Inilah yang menyulut Perang Salib. Perang salib bukanlah usaha Paus yang gila kuasa untuk menyerang kaum lemah lembut cinta damai. Perang Salib adalah usaha bangsa Kristen Eropa untuk bertahan dari gempuran Islam, yang dalam 400 tahun telah berhasil menguasai 2/3 tanah Kristen dan mengeringkan 3/5 Patriarch (Alexandria, Antiokhia, Yerusalem).

Palestina telah berada dalam kendali Islam selama beberapa waktu, meskipun itu didapat dengan persetujuan (walaupun enggan) oleh pihak Kristen yang hidup di Palestina. Namun, pada 1009, Kalifah Fatimite dari Mesir memerintahkan penghancuran gereja Makam Kristus di Yerusalem, yang merupakan tujuan utama peziarah Kristen. Gereja ini kemudian dibangun kembali. Meningkatnya bahaya bagi orang Kristen dalam melakukan ziarah ke Tanah Suci hanya menambah antusiasme untuk melakukan perjalanan tersebut, karena sekarang ziarah menjadi tindakan kesalehan yang lebih besar. Selama abad ke 11, ribuan orang Kristen mengarungi dengan berani, sering dikawal oleh pengawal-pengawal Kristen yang kadang kadang mengawal 12.000 peziarah dalam waktu yang sama.

Bangsa Turki Seljug yang telah menganut Islam pada abad ke 10, mulai menaklukkan bagian-bagian dunia Kristen. Hal ini membuat perjalanan ziarah semakin berbahaya, kalaupun tidak mungkin. Kaum Turki Seljug mengambil alih Yerusalem pada tahun 1070 dan mulai mengancam Kekaisaran Byzantium. Kaisar Romanus IV Diogenes ditangkap oleh kaum Turki Seljuq pada perang Manzikert di tahun 1071. Penerusnya, Michael VII Ducas, meminta bantuan Paus Gregory VII, yang juga berpikiran untuk memimpin ekspedisi militer untuk memukul balik bangsa Turki tersebut, memperbaiki gereja Makam Kristus dan mengembalikan keutuhan Kristen setelah Skisma Timur pada tahun 1054. Namun “Konflik Pengangkatan” menambah beban untuk pelaksanaan rencana ini.

Kaum Turki Seljug terus berekspansi, pada tahun 1084 menaklukkan kota Antioka dan pada tahun 1092 kota Nicea juga ditaklukan, dimana dua konsili ekumenis diadakan berabad-abad sebelumnya. Pada tahun 1090, Tahta Gembala metropolitan historis di Asia sudah berada di tangan orang Islam, yang pada saat itu sudah sangat dekat dengan ibukota Byzantium di Konstantinopel. Sang Kaisar, Alexius I Comnenus, meminta Paus Urban II bantuan.

Pasukan Salib sendiri sering digambarkan sebagai pasukan yang haus kekayaan, ketenaran dan popularitas. Para pemimpin pasukan Salib katanya adalah anak bangsawan kedua atau ketiga, yang tidak memiliki tanah dan kuasa karena mereka bukan ahli waris. Tujuan mereka bergabung dengan pasukan Salib adalah demi mendapatkan gelar, kuasa, kekayaan dan tanah. Kenyataannya berbeda jauh. Pemimpin pasukan Salib adalah para raja suatu kerajaan atau putra mahkota. Tujuan mereka bersifat spiritual. Mereka bergabung dengan pasukan Salib sebagai tanda penitensi dan peziarahan. Gereja sendiri memberikan para pasukan Salib indulgensi peziarah. Banyak di antara mereka rela menggadaikan tanah milik mereka demi membiayai pengadaan pasukan dan artileri yang tidak sedikit. Banyak di antara mereka akhirnya pulang dalam keadaan miskin.

Tujuan Perang Salib ada dua. Pertama membantu Gereja Timur menangkal serangan Islam, sebagaimana yang mereka minta. Kedua, menguasai Yerusalem lagi yang telah ditaklukkan oleh Islam sehingga orang Kristen dapat berziarah dengan aman. Ketika berada di bawah kekuasaan Arab, orang Kristen tetap diberi kebebasan menjalankan ziarah ke Yerusalem (kecuali saat kekuasaan Kalifah Hakim si Gila, yang menghancurkan gereja Makam Kristus dan menganiaya orang Yahudi dan Kristen). Hal ini berbeda saat dunia Islam dipimpin oleh bangsa Turki (Kesultanan Seljuq). Mereka menutup kota Yerusalem. Orang Kristen dilarang berziarah. Pasukan Salib tidak pernah berniat menduduki Jazirah Arab, rumah kelahiran Islam. Ini menandakan bahwa Perang Salib murni bersifat bertahan.

Perang Salib adalah perang. Ini berarti pasti ada pembunuhan dan aneka tindakan brutal lainnya. Meski bukan tujuan utama, pasukan Salib tidak menolak jarahan tetapi penjarahan adalah suatu tindakan lazim dalam perang meski sampai kini. Perang Salib juga tidak ditujukan untuk menyerang kaum Yahudi meski pada kenyataannya beberapa daerah Yahudi diserang. Atas kejadian, ini Paus, para uskup dan pengkhotbah (mis. St. Bernard) jelas-jelas mengutuknya. Korban di pihak Yahudi dapat dianggap sebagai “collateral damage” yang pasti terjadi di setiap perang. 

Setelah membersihkan benak dari berbagai mitos tidak benar akan Perang Salib, mari kita sekarang melihat episode Perang Salib itu sendiri.

Perang Salib Pertama (1096-1099)

Pada tahun 1071, pasukan Byzantium berhasil dikalahkan oleh pasukan Turki Seljuq di Manzikert, dekar Armenia. Ini berarti seluruh wilayah Byzantium di Asia Kecil terbuka tanpa pertahanan. Dengan cepat pasukan Turki ini berkemah di Nicea, dekat Constantinople, ibukota Byzantium. Kaisar Byzantium, Alexius Comnenus, memohon bantuan kepada Paus. Sialnya Paus saat itu, Gregorius VII, meski sempat berpikiran untuk memimpin langsung bala bantuan ke Byzantium, sedang bersiteru dengan Kaisar Romawi Suci, Henry IV dan invasi Normandia oleh Robert Guiscard.

Permohonan putus asa Byzantium ini baru mendapatkan perhatian yang memadai oleh Paus berikutnya, Paus Urban II. Pada musim semi 1095, paus mengizinkan utusan Byzantium untuk menyampaikan permohonan mereka di Konsili Piacenza. Paus Urban II memberi hukuman bagi bangsawan yang enggan membantu. Kemudian Paus, pada 27 November 1095, memberikan khotbah pada Konsili Clermont. Reaksi para pendengar sungguh mengagetkan.

Pada tahun 1095 sebuah pertemuan akbar dilangsungkan di Clermont, Prancis. Dengan pidato yang berapi-api Paus Urbanus II membakar emosi umat Kristen :

“Hai orang-orang Frank, hai orang-orang di luar pegunungan ini, hai orang-orang yang dicintai Tuhan, yang jelas dari perilaku kalian, yang membedakan diri dari bangsa-bangsa lain di muka bumi ini, karena iman kalian, karena pengabdian kalian pada gereja suci; inilah pesan dan himbauan khusus untuk kalian: 

Kabar buruk telah tiba dari Yerusalem dan Konstantinopel, bahwa sebuah bangsa asing yang terkutuk dan menjadi musuh Tuhan, yang tidak lurus hatinya, dan yang jiwanya tidak setia pada Tuhan, telah menyerbu tanah orang-orang Kristen dan membumihanguskan mereka dengan pedang dan api secara paksa.

Tidak sedikit orang-orang Kristen yang mereka tawan untuk dijadikan budak, sementara sisanya dibunuh. Gereja-gereja, kalau tidak mereka hancurkan, mereka jadikan masjid. Altar-altar diporak-porandakan. Orang-orang Kristen mereka sunat, dan darahnya mereka tuangkan pada altar atau tempat-tempat pembaptisan. Beberapa mereka bunuh secara keji, yakni dengan membelah perut dan mengeluarkan ususnya. Mereka tendang orang-orang Kristen, dan mereka dipaksa berjalan sampai keletihan, hingga terjerembab di atas tanah. Beberapa dipergunakan sebagai sasaran panah. Ada yang mereka betot lehernya, untuk dicoba apakah bisa mereka penggal dengan sekali tebas. Lebih mengerikan lagi perlakuan mereka terhadap perempuan.

Kewajiban siapa lagi kalau bukan kalian, yang harus membalas dan merebut kembali daerah-daerah itu? Ingatlah, Tuhan telah memberi kalian banyak kelebihan dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain: semangat juang, keberanian, keperkasaan dan ketidakgentaran menghadapi siapapun yang hendak melawan kalian. Ingatlah pada keberanian nenek moyang kalian, pada kekaisaran Karel Agung dan Louis, anaknya serta raja-raja lainnya yang telah membasmi Arab dan menegakkan agama Kristen di tanah mereka. Kalian harus tergerak oleh makam kudus Tuhan Yesus Sang Juru Selamat kita, yang kini ada di tangan orang-orang najis; kalian harus bangkit berjuang, karena kalian telah tahu, banyak tempat-tempat suci yang telah dikotori, diperlakukan secara tidak senonoh oleh mereka.

Hai para ksatria pemberani, keturunan nenek moyang yang tak tertaklukkan, janganlah lebih lemah daripada mereka, tetapi ingatlah pada ketidakgentaran mereka. Jika kalian ragu-ragu karena cinta kalian kepada anak-anak, isteri, dan kerabat kalian, ingatlah pada apa yang Tuhan katakan dalam Injil: “Ia yang mengasihi ayah dan ibunya lebih daripada Aku, tidak pantas bagi-Ku”…Jangan biarkan apa yang menjadi kepunyaan kalian menghambat kalian. Kalian tak perlu khawatir dengan apa yang menjadi kepunyaan kalian. Negeri kalian telah padat penduduknya, dan dari semua sisi tertutup laut dan pegunungan. Tak banyak kekayaan di sini, dan tanahnya jarang membuahkan hasil pangan yang cukup buat kalian.

Itulah sebabnya sering bertikai sendiri. Hentikan saling benci dan pertengkaran kalian, hentikan peperangan antar sesama kalian. Bergegaslah menuju Makam Kudus, rebutlah kembali negeri itu dari orang-orang jahat, dan jadikan miliki kalian. Negeri itu, seperti dikatakan di dalam Alkitab, berlimpah susu dan madu, Allah memberikannya kepada anak-anak Bani Israil. Yerusalem, negeri terbaik, lebih subur daripada lainnya, seolah-olah surga kedua. Inilah tempat Juru Selamat kita dilahirkan, diperintah dengan kehidupan-Nya, dan dikuduskan dengan penderitaan-Nya. Bergegaslah, dan kalian akan memperoleh penebusan dosa, serta pahala di Kerajaan Surga.”

Serendak seluruh peserta Konsili merespon positif. Mereka mengambil salib merah sebagai lambang tentara. Dalam beberapa jam, seluruh kain berwarna merah lenyap dari kota karena dipotong menjadi lambang salib dan dijahit ke pakaian para ksatria. Petani pun merespon seruan ini. Ribuan petani dan ksatria tak berpengalaman berjalan kaki dari Eropa ke Timur Tengah dan memasuki daerah musuh tanpa garis komando yang jelas, tanpa pemimpin tunggal, tanpa logistik, tanpa taktik yang rinci. Mereka hanya ingin menolong Gereja Timur dan membebaskan Yerusalem. Alhasil, dengan mudahnya mereka dikalahkan. Pasukan yang dibangun atas spontanitas ini disebut Pasukan Salib Petani (Peasant Crusade) atau Pasukan Salib Rakyat (Peoples’ Crusade). Karena tidak memiliki pemimpin, pasukan Salib ini bergerak tidak terpimpin. Beberapa kelompok, sedihnya, menyerang kaum Yahudi.

Para baron Frank menghimpun kekuatan dan memimpin pasukan Salib dengan lebih persiapan yang lebih baik pada tahun 1096. Saat ini tidak ada raja yang ikut. Pasukan Salib kali ini dipimpin oleh Bohemond of Taranto, Raymond of Tolouse, Hugh of Vermandois, Godfrey of Bouillon, Balwin of Bologne, Robert of Flanders, dan Robert of Normandy. Paus Urban II juga mengirimkan utusannya, Uskup Le Puy, Mgr. Adhemar, yang akan berperan menjaga keharmonisan para pemimpin ini.

Pasukan Salib mencapai Konstantinople pada April 1097. Pada Juni 1097 mereka berhasil mengembalikan Nicea (kota dekat Konstantinople) ke tangan orang Kristen. Pada tanggal 1 Juli 1097, pasukan Salib menyerang Dorylaeum. Pada Oktober 1097, pasukan Salib mencapai Antiokhia  dan mengepungnya. Pada tahun 1098 Antiokhia dibebaskan. Meski sempat dikepung balik, pasukan Salib berhasil menghalau pasukan Turki pada tanggal 28 Juni 1098. Para pemimpin  setuju untuk beristirahat hingga tanggal 1 November 1098. Pada bulan Agustus, Uskup Adhmar meninggal tanpa meninggalkan pengganti. Sekarang para pemimpin kehilangan pemersatu. Bohemond enggan berangkat dan ingin menguasai Antiokhia sendirian. Raymond of Tolouse tetap ingin menyerang Yerusalem. Para pasukan mendukung Raymond bahkan mengancam akan merubuhkan tembok kota bila mereka diperintah untuk tinggal di Antiokhia.

Pada tanggal 13 Januari 1099, Raymond memimpin pasukan Salib menuju Yerusalem. Pada tanggal 7 Juni, pasukan Salib berhasil melihat Yerusalem dari Mountjoy, tempat para peziarah menatap Yerusalem pertama kali dalam peziarahan mereka. Saat ini ditandai dengan air mata haru dan ucapan syukur sambil berlutut oleh para pasukan kepada Tuhan karena telah menyertai peziarahan mereka.

Pengepungan Yerusalem lebih sulit daripada Antiokhia. Di tengah keputus-asaan, seseorang dari pasukan mengatakan bahwa ia mendapat mimpi dari Uskup Adhemar yang meminta mereka mengitari tembok Yerusalem di siang hari terik dengan telanjang kaki, berpuasa dan memohon kepada Tuhan. Para pasukan mendapatkan semangat mereka lagi dan benar-benar melakukan permintaan Uskup Adhemar. Pada tanggal 15 Juni 1099, pasukan Salib mulai menyerang kota Yerusalem lagi. Godfrey of Bouillon bahkan melakukannya sambil memanggul salib. Pasukan Godfrey berhasil masuk dan membuka Gerbang St. Stefanus. Tetapi Yerusalem baru jatuh setelah pasukan Raymond ikut masuk ke Yerusalem. 

Pada Juli 1099, Yerusalem berhasil dibebaskan. Terjadi penjarahan dan pembunuhan orang tidak berdosa (The Sack of Jerusalem). Baik Raymond maupun Godfrey tidak terlibat dan tidak menyetujui tindakan ini. Banyak pihak menyalahkan pasukan Salib akan penjarahan Yerusalem ini, bahkan menambahkan pembantaian menyebabkan banjir darah hingga setinggi mata kaki. Pembantaian dan penjarahan kota taklukan adalah sesuatu yang biasa pada perang terutama perang zaman dahulu. Meski ini terlihat brutal dari kacamata modern, ini adalah sesuatu yang lazim bagi Abad Pertengahan. Mengenai darah setinggi mata kaki, hal itu jelas tidak mungkin. Dengan luas kota Yerusalem, dibutuhkan banyak sekali korban untuk bisa menggenangi seluruh kota dengan darah hingga setinggi mata kaki. Jumlah penduduk di sekitar Yerusalem saat itu pun tidak akan mencukupi.

Kerajaan Salib di Timur Tengah didirikan. Raymond dan Godfrey menolak mahkota Yerusalem dengan alasan mereka tidak mau mengenakan mahkota emas sementara Tuhan Yesus mengenakan mahkota duri. Godfrey setuju untuk menjaga Yerusalem. Dia menggunakan gelar “Pembela Makam Suci” (Defender of the Holy Sepulcher). Kebanyakan dari pasukan berziarah ke Makam Suci, menuntaskan sumpah mereka dan kembali ke Eropa. Sebenarnya istilah “perang salib” adalah istilah modern. Orang yang terlibat dalam “perang salib” itu sendiri menggunakan istilah “ziarah”.

Pasukan Salib berhasil membangun Kerajaan Salib, yang dibagi menjadi empat wilayah County of Edessa, Principality of Antiochia, County of Tripoly, dan Kingdom of Jerusalem. Untuk menjamin keamanan Yerusalem, ordo militer Ksatria St John (Knight of St. John, atau Hospitaller) didirikan. Sayangnya kejayaan ini tidak bertahan lama.

Perang Salib Kedua (1145 – 1149)

Tahun 1128 menjadi sebuah titik balik bagi orang Turki. Sultan Rum di Asia Kecil Turki menunjuk Imaduddin Zangi sebagai Atabeg Mosul dan Aleppo. Zangi menerima tanggung jawab itu , ia meminta Sultan untuk memberinya otoritas mutlak atas seluruh Suriah dan Irak Utara, yang kemudian membuat penduduk di kedua wilayah tersebut untuk mendukung secara penuh operasi-operasi militer yang akan dilakukan.

Pada bulan November 1144, pasukan Zangi mengepung Edessa yang sedang dikuasai oleh orang Kristen. Edessa kemudian menyerah dan Zangi menghancurkan pemerintahan Kristen. Ini adalah sebuah kemenangan yang mengharumkan nama Zangi sekaligus menjadi pahlawan Islam. Jatuhnya Edessa adalah kekalahan yang menyakitkan bagi orang Kristen, baik yang berada di barat maupun timur.

Kabar tentang kejatuhan Edessa mengejutkan orang-orang Kristen di Eropa Barat. Paus Eugenius dan Raja Perancis Louis VII menyerukan perang Salib baru. Seruan ini kemudian didukung oleh Bernard, kepala biara dari Clairvaux. Saat itu Bernard bisa kita anggap orang yang paling berkuasa secara de facto di Eropa. Raja Perancis berada di bawah pengaruhnya, sedangkan Paus Eugenius adalah anggota dari ordo religius yang dipimpinnya. Pamor kekuasaanya begitu kuat karena kefasihannya yang kharismatik.

Sebagai respon, Paus Eugenus III memanggil Perang Salib baru, yang diserukan di Prancis dan Jerman oleh St. Bernard dari Clairvux. Raja Perancis, Louis VIII, dan istrinya, Eleanor dari Aquitaine, segera merespon, meskipun Kaisar Jerman, Conrad III, harus dibujuk terlebih dahulu. Kaisar Byzantine saat itu, Manuel Comnenus, juga mendukung perang Salib, meskipun dia tidak menyumbangkan pasukannya. Kaum Kristen merasa harus melawan balik. Penaklukan Edessa oleh Zangi dipandang sebagai langkah pertama bagi penaklukan Islam di Eropa. Edessa hanyalah sebagai awal. Pihak Kristen mulai sadar di tahun-tahun belakangan ini bahwa kemenangan Zangi adalah bukti akan besarnya kekuatan Islam yang tak akan bisa dikalahkan. Kaum Kristen merasa begitu terancam dan Bernard menggambarkan bahwa saat itu adalah titik balik dalam sejarah.

Meskipun pada suatu waktu perang Salib ini melibatkan pasukan terbesar, Perang Salib kedua ini tidak diikuti oleh antusiasme seperti antusiasme pada Perang Salib yang pertama, karena pada saat itu Yerusalem masih dikuasai Kristen. Jalannya kampanye kedua ini juga dipenuhi kepentingan-kepentingan dari pihak yang terlibat, yang kesemuanya menghambat kemajuan. Terjalnya perjalanan juga semakin menambah kesulitan.

Raja Jerman yang bernama Conrad adalah salah satu pemimpin pasukan Salib jilid kedua ini. Conrad adalah raja yang sudah tua dan mempunyai permasalahan dengan kesehatannya. Ia telah melaksanakan perang membela gereja dengan melawan kaum pagan Slav dan Wend di Eropa Timur. Selain itu Conrad juga telah memerangi musuh-musuh Paus di Italia. Pada akhir Mei 1147, pasukan besar Conrad berangkat melalui Eropa Timur menuju Konstantinopel. Orang-orang Eropa terpana melihat besarnya pasukan yang mencapai 20.000 orang. Bersama Conrad, ikut juga pasukan raja budak dari Bohemia dan Polandia. Para bangsawan Jerman dipimpin oleh Frederick dari Swabia. dan bersumpah untuk menguasai Byzantium yang dipimpin oleh kaisar Manuel. Pada 8 Juni, giliran pasukan Perancis berangkat. Louis adalah seorang pemuda berumur 26 tahun saat itu dan merupakan pewaris tahta Perancis. Istri Louis, Eleanor, juga ikut serta. Eleanor adalah salah seorang pemilik tanah terbesar di Eropa yang berada di selatan Perancis.

Lebih setahun kemudian, pada Februari 1148, pasukan Salib yang telah lelah berjuang untuk memasuki pelabuhan Byzantium di Attalia. Mereka harus memutuskan apakah tetap melalui jalur darat, dilanjutkan melalui laut atau membelah pasukan sebagian lewat darat dan sebagian lewat laut. Kesulitan yang mereka hadapi jauh lebih sulit daripada para pendahulu mereka. Dari pengalaman pahit sebelumnya, Kaisar Manuel tahu dengan kedatangan pasukan Salib di wilayah Byzantium akan mengundang pasukan Turki Seljuq yang masih segar untuk menyerang. Manuel tak ingin terlibat masalah ini. Karena itu Manuel membuat perjanjian dengan Mas’ud, Sultan Rum atau Turki Seljuq sebelum pasukan Salib sampai di Byzantium. Pada 20 Juli, pasukan Conrad telah sampai di Konstantinopel. Menurut mereka, orang-orang Byzantium dan Kaisar Manuel telah berkhianat. Tak heran jika Manuel tidak membantu pasukan salib ini. Pasukan Conrad telah menjarah Byzantium bahkan Conrad sendiri mengancam akan menduduki Byzantium. Jadi tak ada alasan Byzantium untuk membantu pasukan Salib walau mereka sama-sama beragama Kristen.

Pada tanggal 19 Maret 1148, pasukan Louis telah tiba di pelabuhan St. Simeon. Kaisar Conrad jatuh sakit dan harus kembali ke Konstantinopel. Conrad kemudian dirawat dengan penuh kasih oleh Kaisar Manuel, seorang kaisar yang pernah diancam Conrad sebelumnya. Maka sekarang hanya Louis, pemimpin satu-satunya yang berhasil mencapai Antiokhia dan disambut secara hangat oleh Pangeran Raymund penguasa Antiokhia. Pangeran Raymund mempunyai harapan yang besar dengan adanya pasukan Salib ini. Raymund yang merasa terancam dengan perkembangan Nuruddin dan terus mengawasinya. Kota muslim Aleppo hanya berjarak 50 mil dari Antiokhia. Sebuah serangan mendadak pasukan Salib ke Aleppo diusulkan Raymund kepada Louis. Namun Louis menolak usulan ini. Louis bersikeras ia sedang melakukan perjalanan ziarah dan tidak dapat menyerang secara besar-besaran sebelum berdoa di makam suci.

Karena tidak mampu untuk sampai ke Edessa, para pasukan Salib berkonsentrasi untuk mengambil alih Damaskus. Setelah Louis melakukan ziarah, pada Juli 1148, kemudian diputuskan pasukan Salib dan pasukan kerajaan Yerusalem menyerang Damaskus, satu-satunya sekutu kaum Frank di timur di tengah-tengah wilayah kekuasaan Islam yang mulai bangkit. Serangan ini menguatkan Nuruddin. Ketika melihat Damaskus dikepung oleh pasukan Salib bekas sekutunya, Amir Damaskus kemudian meminta bantuan Nuruddin. Dengan begitu, aliansi Nuruddin justru lebih kuat daripada sebelumnya. Pasukan Salib memilih untuk menyerang Damaskus dari timur, dimana kebun akan memberi mereka makanan konstan. Mereka tiba pada tanggal 23 Juli, dengan pasukan Yerusalem di garis depan, diikuti dengan Louis dan lalu Conrad sebagai penjaga belakang. Orang Muslim bersiap untuk serangan dan langsung menyerang pasukan yang maju menuju perkebunan. Pasukan Salib mampu melawan mereka dan mengejar mereka kembali ke Sungai Barada dan menuju Damaskus; setelah tiba diluar tembok kota, mereka langsung menyerang Damaskus. Damaskus telah meminta bantuan dari Saifuddin Ghazi I dari Aleppo dan Nuruddin dari Mosul.

Pengepungan Damaskus adalah sebuah kegagalan besar, yang hanya mampu mengepung beberapa hari saja. Pada mulanya pasukan Salib mengalami kemajuan dengan menaklukkan sebagian perkebunan buah di luar kota. Kemudian kaum Frank Yerusalem mengusulkan untuk memindah posisi pasukan Salib di bawah benteng agar pasukan muslim tidak dapat berlindung di pohon-pohon. Ternyata posisi ini justru fatal bagi pasukan Salib dan mereka menuduh kaum Frank Yerusalem telah menerima suap dari Nuruddin. Di saat yang kacau itu, pasukan bantuan Nuruddin datang. Kaum Frank Yerusalem berusaha membujuk pasukan Salib untuk mengakhiri pengepungan. Pasukan Salib mundur kembali, pertama Conrad, lalu sisa dari pasukan, memilih untuk mundur ke Yerusalem. Kegagalan dari Perang Salib kedua begitu mematahkan semangat, dan banyak orang di Eropa merasa bahwa Kekaisaran Byzantium merupakan halangan dalam mencapai kesuksesan. Kegagalan ini juga merupakan tiupan moral yang kuat bagi pasukan Islam yang telah berhasil secara sebagian mengurangi kekalahan mereka di Perang Salib pertama. Posisi dari negara bagian para pasukan Salib saat itu lemah, dan di tahun tahun selanjutnya mereka dikelilingi oleh kekuatan Islam yang telah berkonsolidasi yang diikuti oleh hancurnya Kalifah Fatimid di Mesir.

Perang Salib Ketiga (1189-1191)

Kekalahan kaum Kristen di Tiberias dan kehilangan berikutnya atas Jerusalem pada tahun 1187 menyebabkan Sultan Salahuddin menguasai seluruh daerah Jerusalem kecuali daerah pertahanan kaum Frank di Tyre. Dengan keberuntungan, Conrad of Monferrat (Italia) tiba di Tyre dengan sekapal Ksatria Perancis pada musim panas 1187, tepat pada waktunya untuk membantu memukul mundur Sultan Salahuddin di kota. Untuk tahun berikutnya Conrad membangun kekuatannya dengan merekrut peziarah bersenjata. Kemudian pada Juli 1188, Salahuddin membebaskan Guy dari Lusignan, raja Jerusalem yang dikalahkan. Kedua pemimpin Kristen segera bertengkar untuk mengambil alih komando tertinggi. Akhirnya, pada Agustus 1189, Raja Guy keluar membawa pasukannya untuk menyerang pasukan Islam di Acre, 20 kilometer arah selatan. Conrad kemudian mengikutinya pada September. Acre, sebuah benteng yang kuat yang dibangun di semenanjung. Kedua pemimpin Kristen yang bersaing, dengan sekitar 30.000 orang pasukan, melakukan pengepungan satu mil ke arah timur Bukit Turon. Pengepungan ini berjarak satu mil dari pertahanan yang dibangun oleh Salahudin. Terjadi kebuntuan, di mana kedua belah pihak menderita dari penyakit dan kelaparan daripada dari pertempuran, selama tahun 1190. 

Pada saat yang sama tiga raja terbesar di Eropa bergerak ke arah timur untuk Perang Salib ketiga. Pertama adalah Frederick I, Barbarossa, Kaisar Romawi Suci. Frederick memimpin 100.000 pasukan Jerman melalui Balkan dan Asia Kecil, tetapi tenggelam di Sungai Calycadnus di Cicilia pada 10 Juni 1190. Pasukan besarnya segera hancur dan putranya Frederick V Swabia tiba di depan Acre pada bulan Oktober dengan hanya 1.000 prajurit bersenjata. Dua raja lainnya, Philip II, Augustus, dari Perancis dan Richard I, Coer de Lion, dari Inggris – berangkat pada musim panas 1190. Mereka bermusim dingin di Sisilia. Philip kemudian berlayar langsung ke Acre, tiba di sana pada April 20, 1191. Richard berhenti di Siprus untuk merebut pulau tersebut dari kekaisaran Byzantium dan tidak mendarat di pantai di Acre sampai 8 Juni . Para pemimpin Kristen yang berkumpul di Acre, bertengkar di antara mereka sendiri untuk meluncurkan serangan gabungan pada benteng. Tetapi serangan demi serangan yang mereka lakukan, ditambah dengan blokade ketat oleh kapal-kapal mereka di pelabuhan, memaksa garnisun muslim untuk menyerah pada tanggal 12 Juli mengakhiri pengepungan selama dua tahun. Kemenangan tersebut membawa perselisihan baru di antara para komandan pasukan Salib. Leopold, Duke dari Austria (yang memimpin pasukan Jerman setelah kematian Frederick V Swabia pada tahun terakhir pengepungan), dan Raja Philip berlayar ke Eropa. Conrad merajuk di Tyre. Richard, bersekutu dengan Raja Guy, menjadi pemimpin tunggal Perang Salib itu. Ketika Salahuddin menolak untuk menghormati persyaratan menyerah dari mereka, Richard mengeksekusi semua 2.700 tawanan muslim. Ia kemudian mengambil jalan pantai selatan ke Jerusalem.

Raja Richard I Lionheart adalah petarung unggul, ahli taktik yang berpengalaman dan pemimpin yang hebat, bahkan dihormati oleh Sultan Saladin. Sebenarnya kedua pemimpin ini saling menghormati dan saling mengakui. Raja Richard berhasil mengusai seluruh pantai Timur Tengah, tetapi tidak berhasil menguasai Yerusalem. Richard kemudian mengadakan gencatan senjata dengan Saladin dan kembali ke Eropa. Saladin berjanji akan mengizinkan peziarah memasuki Yerusalem selama mereka tidak bersenjata. 

Perang Salib Keempat (1201-1204)

Perang Salib Keempat, meski lebih dipersiapkan dan lebih heboh, tetap gagal bahkan berakibat pahit, yaitu penjarahan Konstantinople. Perang Salib ini dimulai pada tahun 1201, saat Count Tibald of Champagne mengusulkan hal ini kepada Paus Innocent III, yang menyetujui rencana ini. Setahun kemudian, diputuskan bahwa tujuan Perang Salib ini adalah Mesir. Satu-satunya cara mencapai Mesir adalah melalui laut. Venesia bersedia menyediakan 4.500 ksatria, 9.000 squire dan sergeant, 20.000 infantri, dan 20.000 kuda, dengan imbalan 85.000 silver mark dan 50% jarahan. Masalahnya Count Tibald meninggal. Tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh Boniface de Monferrate. Boniface dipilih karena ia merupakan paman Putri Maria of Jerusalem. Hubungan ini menjamin pasukan Salib akan diterima oleh penguasa Kerajaan Salib (Crusade Kingdom) di Tanah Suci.

Boniface sendiri merupakan teman Pangeran Philip of Swabia. Istri Philip adalah Putri Irene Angelica of Byzantium. Saat itu, terjadi kudeta di Kekaisaran Byzantium. Kaisar Isaac Angelus dikudeta oleh saudaranya Alexius III, dibuat menjadi buta dan ditahan dalam penjara bawah tanah (dungeon). Irene meminta Boniface untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan ayahnya, Isaac Angelus, dan saudaranya, Alexius. Ternyata Alexius berhasil melarikan diri dan sampai kepada Boniface. Alexius meminta bantuan Boniface untuk merebut kembali kekaisarannya. Boniface setuju.

Latar belakang yang cukup penting lagi adalah sikap Venesia. Mesir, bagi Venesia, adalah pasar yang bergairah. Mereka tidak ingin Mesir dihancurkan. Pada April 1202, hanya 2 bulan sebelum pasukan Salib dikirim, Venesia berhasil membuat kesepakatan dengan Sultan Mesir, al-Adil, bahwa pasukan Salib tidak akan sampai di Mesir.

Pada Juni 1202, pasukan Salib telah berkumpul, siap diberangkatkan. Venesia menuntut sisa bayaran 35.000 silver mark mereka. Doge Enrico Dandolo of Venice berunding dengan Boniface. Enrico membenci orang Yunani, bukan saja karena mereka adalah saingan dagang Venesia, melainkan karena ia memiliki dendam pribadi. Enrico selama muda pernah terlibat perkelahian di Constantinople yang menyebabkan dia hampir buta total. Enrico akhirnya setuju memberangkatkan pasukan Salib. Enrico memiliki rencananya sendiri. September 1202 merupakan saat di mana pasukan Salib merebut Zara dari raja Hungaria. Kota Zara dulunya adalah milik Venesia, kemudian direbut oleh Hungaria, dan sekarang Enrico mengingikannya kembali. Meski enggan, pasukan Salib terpaksa menuruti permintaan pengangkut mereka. Pasukan Salib akhirnya menyerang wilayah Hungaria, sesama anggota Gereja. Paus Innocent III segera meng-ekskomunikasi pasukan Salib tetapi setelah mengetahui bahwa mereka dipaksa oleh Venesia, ekskomunikasi dicabut.

Saat di Zara, Pangeran Alexius of Byzantium, menjanjikan bila pasukan Salib membantunya merebut kembali kekaisarannya, dia akan melunaskan hutang pasukan Salib kepada Venesia, memasok pasukan Salib dengan 10.000 pasukan Byzantium, menyediakan 500 pasukan berzirah untuk membantu mempertahankan Mesir bila berhasil direbut, dan menjanjikan Gereja di Constantinople mengakui keutamaan Roma. Perjanjian yang sangat menguntungkan, terutama bagi Venesia yang kini bersedia mengangkut pasukan Salib dari Zara pada April 1203.

Juni 1203, kapal Venesia berhasil melewati “pertahanan rantai” Konstantinople. Kaisar Alexius III melarikan diri. Isaac Angelus dibebaskan, dan Pangeran Alexius dimahkotai sebagai Kaisar Alexius IV pada 1 Agustus 1203. Masalah segera muncul karena Alexius III telah mengosongkan perbendaharaan Kekaisaran sebelum kabur dan Gereja di Constantinople menolak mengakui keutamaan Paus. Bingung, Kaisar Alexius IV merampok Gereja Orthodox, meski tetap tidak bisa memenuhi janjinya. Beberapa kelompok pasukan Salib berkeliaran selama Kaisar belum mampu mengumpulkan uang. Sebuah masjid di Konstantinople dibakar oleh pasukan Prancis. Kebakaran yang terjadi melebar dan menghanguskan seluruh seksi kota di mana masjid itu ada.

Januari 1204, kemenakan Alexius III, Alexius Marzuphlus, ingin melakukan kudeta. Dia menghasut massa Constantinople mengadakan kerusuhan. Massa mengangkat Nicolas Cannabus sebagai Kaisar baru. Marzuphlus memimpin sejumlah pasukan menuju istana, memenjara Cannabus, membunuh Alexius IV dengan mencekiknya dengan senar busur, dan memukul Isaac Angelus hingga meninggal beberapa hari kemudian. Kehilangan penjamin mereka, pasukan Salib menyerang Konstantinople pada 6 April 1204 dan berhasil berkat mesin pengepung Venesia dan kebakaran dalam Konstantinople yang nampaknya dilakukan oleh mata-mata Venesia. Melihat kemengangan di depan mata, pasukan Salib memilih Kaisar baru untuk Konstantinople yang berasal dari mereka.

Venesia setuju dengan syarat bila Kaisar adalah orang Frank, Patriarch yang baru harus orang Venesia. Semua setuju. Kemudian mereka melangkah pada kesepakatan pembagian jarahan. Istana, dan 25% kota Konstantinople dan tanah Byzantium menjadi miliki Kaisar baru. Sisa 75% tanah akan dibagi rata di antara pasukan Salib dan Venesia. Tujuan Mesir terlupakan, sesuai dengan tujuan awal Venesia.

Enrico melangkah lebih jauh. Setelah berhasil memasuki Istana Byzantium, Enrico membalas dendam pribadinya dengan mengumumkan bahwa para pasukan diizinkan menjarah kota selama tiga hari. Setelah 3 hari, pasukan ditertibkan lagi dan diharuskan membawa jarahan ke tiga tempat di kota. Seorang pasukan Prancis yang menyembunyikan jarahan akhirnya digantung. Sekarang pembagian jarahan. Setelah Venesia menerima pembayaran yang dijanjikan Alexius IV, sisa jarahan dibagi rata antara pasukan Salib  dengan Venesia. Venesia menerima 400.000 mark, sesuatu yang sangat luar biasa. Kemudian pembagian tanah. Boniface mendapatkan tanah yang cukup luas temasuk Kreta, yang kemudian dibeli oleh Venesia. Pada tanggal 16 Mei 1204, Count Baldwin of Flanders dimahkotai menjadi Kaisar Latin Byzantium. Seluruh pasukan Salib di-ekskomunikasi oleh Paus Innocent III. Mesir telah dilupakan. Venesia mendapatkan keuntungan melebihi perkiraan mereka.

Perang Salib Kelima (1217-1221)

Perang Salib Kelima (1217–1221) adalah upaya untuk merebut kembali Yerusalem dan seluruh wilayah Tanah Suci lainnya dengan pertama-tama menaklukkan Dinasti Ayyubiyyah yang kuat di Mesir.

Paus Honorius III mengorganisir pasukan Salib yang dipimpin oleh Leopold VI dari Austria dan Andrew II dari Hongaria, dan sebuah serangan terhadap Yerusalem akhirnya menyebabkan kota itu tetap berada di tangan pihak Islam. Belakangan pada tahun 1218, sebuah pasukan Jerman yang dipimpin oleh Oliver dari Koln, dan sebuah pasukan campuran Belanda, Vlams dan Frisia yang dipimpin oleh William I, Adipati Belanda tiba. Untuk menyerang Damietta di Mesir, mereka bersekutu dengan Kesultanan Rûm Seljuk di Anatolia, yang menyerang Dinasti Ayubi di Suriah dalam upaya membebaskan pasukan Salib dari pertempuran di dua front.

Tidak seperti Perang Salib sebelumnya (Keempat) yang menjadi tidak terkendali ditangan awam, upaya kali ini diletakkan dalam otoritas wakil kepausan, Cardinal Pelagius. Dia mempunyai pengetahuan militer dan secara rutin berperan dalam keputusan militer. Usaha kali ini mengalami kesuksesan awal, dan pasukan Islam yang terkejut menawarkan syarat damai yang sangat menguntungkan, termasuk pengembalian Yerusalem. Tapi pasukan Salib, dianjurkan oleh Kardinal Pelagius, menolak ini. Sebuah blunder militer mengakibatkan pasukan Salib kehilangan Damietta yang mereka dapat di awal kampanya ini. Pada tahun 1221, pasukan Kristen menerima perjanjian gencatan senjata dengan syarat yang jauh kurang menguntungkan dari yang pertama. Banyak yang menyalahkan Pelagius, beberapa menyalahkan Paus. Banyak juga yang menyalahkan Kaisar Jerman Frederick II yang tidak tampil di Perang Salib kali ini tapi yang akan tampil utama di Perang Salib berikutnya.

Setelah menduduki pelabuhan Damietta, para pasukan Salib berbaris ke selatan menuju Kairo pada Juli 1221, tetapi mereka berbalik setelah pasokan mereka berkurang dan menyebabkan mereka harus mengundurkan diri. Sebuah serangan malam oleh Sultan Al-Kamil menyebabkan kerugian besar di kalangan pasukan Salib dan akhirnya pasukan itu pun menyerah. Al-Kamil sepakat untuk mengadakan perjanjian perdamaian 8 tahun dengan Mesir.

Pada musim semi 1213, Paus Inosensius III menerbitkan bula kepausan Quia Maior, yang menyerukan kepada seluruh dunia Kristen untuk bergabung dalam sebuah Perang Salib yang baru. Namun raja-raja dan kaisar-kaisar Eropa, sedang sibuk berperang di antara mereka sendiri. Pada saat yang sama, Paus Inosensius III tidak menginginkan bantuan mereka, karena perang Salib sebelumnya yang dipimpin oleh raja-raja pernah gagal. Ia memerintahkan diadakanya prosesi, doa, dan mengkhotbahkan seruan untuk mengorganisir Perang Salib itu, dengan harapan untuk melibatkan penduduk umumnya, para bangsawan kecil dan para ksatria.

Pesan yang mengandung seruan berperang ini disampaikan di Prancis oleh Robert dari Courçon. Namun, berbeda dengan Perang Salib lainnya, tidak banyak ksatria Prancis yang ikut serta, karena mereka sudah berperang dalam Perang Salib Albigensia melawan sekte Kathar yang sesat di Perancis Selatan.

Pada tahun 1215 Paus Inosensius III menghimpun Konsili Lateran IV. Dengan rekan-rekannya, antara lain Patriarkh Latin dari Yerusalem, Raoul dari Merencourt, ia membahas perebutan kembali Tanah Suci, di antara urusan gereja lainnya. Paus Inosensius ingin peperangan ini dipimpin oleh kepausan, seperti yang mestinya terjadi dengan Perang Salib Pertama untuk menghindari kesalahan-kesalahan Perang Salib Keempat, yang diambil alih oleh bangsa Venezia. Paus Inosensius merencanakan para perwira Salib bertemu di Brindisi pada tahun 1216, dan melarang perdagangan dengan pihak Islam, untuk memastikan bahwa para perwira Salib akan memiliki kapal dan senjata. Setiap perwira Salib akan menerima indulgensi, termasuk mereka yang hanya ikut menolong membayar biaya-biaya seorang perwira Salib, namun tidak pergi sendiri dalam peperangan.

Paus Innocent III berniat membentuk pasukan Salib kelima tetapi meninggal sebelum menyelesaikannya (1217). Perang Salib kelima ini ditujukan ke Mesir tetapi gagal juga.

Perang Salib Keenam (1228 – 1237)

Dimulai pada tahun (1228-1237) sebagai upaya untuk mendapatkan kembali Yerusalem. Itu dimulai tujuh tahun setelah kegagalan Perang Salib Kelima. Frederick II, Kaisar Romawi Suci, telah melibatkan dirinya secara luas dalam Perang Salib Kelima, pengiriman pasukan dari Jerman, tapi ia gagal mendampingi pasukan secara langsung, walau ada dorongan Honorius III dan kemudian Gregorius IX, saat ia diperlukan untuk mengkonsolidasikan posisinya di Jerman dan Italia sebelum memulai sebuah perang Salib. Namun, Frederick lagi berjanji untuk pergi pada perang Salib setelah penobatannya sebagai Kaisar pada tahun 1220 oleh Paus Honorius III.Gregorius menyatakan bahwa alasan bagi ekskomunikasi Frederick adalah keengganan untuk meneruskan perang Salib. 

Pada tahun 1225 Frederick menikah Yolande dari Yerusalem (juga dikenal sebagai Isabella), putri John dari Brienne, calon penguasa Kerajaan Yerusalem, dan Maria dari Montferrat. Frederick kini punya klaim pada kerajaan yang terpecah, dan mempunyai alasan untuk berusaha memulihkannya. Pada tahun 1227, setelah menjadi Paus Gregorius IX, Frederick dan pasukannya berlayar dari Brindisi menuju Acre, tetapi sebuah epidemi Frederick menyebabkan ia kembali ke Italia. Gregory IX mengambil kesempatan ini untuk mengucilkan Frederick dan pasukan Salib yang melanggar sumpah, walaupun ini hanya alasan, seperti Frederick sudah selama bertahun-tahun telah berusaha untuk mengkonsolidasikan kekuasaan kekaisaran di Italia dengan mengorbankan kepausan.Gregorius menyatakan bahwa alasan bagi ekskomunikasi Frederick adalah keengganan untuk meneruskan perang Salib. Untuk Gregory, perang Salib hanyalah alasan untuk mengucilkan kaisar. Frederick berusaha untuk bernegosiasi dengan Paus, tapi akhirnya memutuskan untuk mengabaikannya, dan berlayar ke Suriah pada 1228 meskipun ekskomunikasi dan tiba di Acre pada bulan September.

Innocent III telah mengijinkan Frederick II untuk menunda partisipasinya di Perang Salib supaya dia bisa mengatasi masalah di Jerman. Penerus Innocent III, Gregory IX, kesal terhadap penundaan terus menerus Frederick memperingatkan Frederick untuk memenuhi kaulnya. Saat sang Kaisar menunda lagi dengan alasan sakit Paus langsung meng-ekskomunikasi dia. Saat Frederick akhirnya berangkat, dia berperang dalam kondisi ter-ekskomunikasi. Situasi aneh ini mengawali suatu Perang Salib yang aneh. Karena kondisi ter-ekskomunikasi dari Frederick, sedikit orang yang mendukung dia sehingga dia tidak mampu menggalang kekuatan militer yang besar. Karena itu dia memakai diplomasi dan mengambil kesempatan atas terjadinya perpecahan didalam Muslim. Dia melakukan perjanjian dengan Sultan Al-Kamil dari Mesir pada 1229. Menurut perjanjian tersebut Yerusalem (Kecuali Kubah Batu dan Mesjid Al-Aqsa), Betlehem, Nazareth dan beberapa daerah tambahan, akan dikembalikan ke Kerajaan Yerusalem. Frederick II yang masih ter-ekskomunikasi, kemudian dimahkotai sebagai Raja Yerusalem di Gereja Makam Kristus dalam suatu upacara non-religius (Karena Yerusalem dilarang oleh Gereja untuk melakukan upacara religius akibat status Frederick II yang masih ter-ekskomunikasi). Tahun selanjutnya Frederick II diterima kembali ke Gereja. Namun dia tidak mampu memerintah dengan sukses Kerajaan Yerusalem dari jauh karena baron lokal menolak untuk bekerja sama dengan wakil dia. Tahun 1239 dan 1241 ada dua Perang Salib kecil yang dilakukan oleh Thibaud IV dari Champagne dan Roger dari Cornwall. Dua upaya ke Siria dan melawan Ascalon, namun tidak sukses.

Perang Salib Ketujuh (1248-1254)

Perang Salib Ketujuh (1248-1254) adalah perang Salib yang dipimpin oleh Louis IX dari Perancis. Sekitar 50.000 bezant emas (suatu jumlah yang setara dengan seluruh pendapatan tahunan dari Perancis) dijadikan tebusan untuk membebaskan Raja Louis bersama dengan ribuan pasukannya yang ditangkap di Mesir. Mereka dikalahkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Sultan Ayyubiyah Turansyah didukung oleh Bahariyya Mamluk dipimpin oleh Faris ad-Din Aktai, Baibars al-Bunduqdari, Qutuz, Aybak dan Qalawun.

Pada tahun 1244, para Khwarezmians merebut Yerusalem dalam perjalanan dengan sekutu mereka, Mamluk Mesir. Sehingga kembali Yerusalem dikuasai Islam, namun kejatuhan Yerusalem tidak lagi merupakan sebuah peristiwa menghancurkan dunia Kristen Eropa, yang telah melihat perpindahan kota itu dari Kristen kepada Islam ke sekian kali dalam dua abad terakhir. Kali ini, meskipun panggilan dari Paus, tidak ada antusiasme populer untuk perang Salib baru.

Paus Innosensius IV dan Frederick II, Kaisar Romawi Suci melanjutkan perjuangan kepausan-kekaisaran. Frederick ditangkap dan dipenjarakan ulama dalam perjalanan ke Konsili Lyon, dan pada tahun 1245 ia secara resmi digulingkan oleh Innosensius IV. Paus Gregorius IX juga telah ditawarkan sebelumnya saudara Raja Louis, pangeran Robert of Artois, tetapi Louis menolak. Dengan demikian, Kaisar Romawi Suci tidak dalam posisi untuk perang Salib. Henry III dari Inggris itu masih berjuang dengan Simon de Montfort dan masalah lain di Inggris. Henry dan Louis tidak dalam saat yang terbaik, yang terlibat dalam Capetia-Plantagenet perjuangan, dan sementara Louis sedang pergi berperang raja Inggris menjanjikan menandatangani gencatan senjata untuk tidak menyerang tanah Perancis. Louis IX juga mengundang Raja Haakon IV dari Norwegia untuk perang Salib, mengirim penulis sejarah Inggris, Matius Paris sebagai seorang duta besar, tapi sekali lagi tidak berhasil. Satu-satunya orang yang tertarik memulai perang Salib yang lain karena itu Louis IX, yang menyatakan niat untuk pergi Timur pada tahun 1245.

Perang Salib Kedelapan (1270)

Perang Salib terakhir juga dipimpin oleh Louis IX. Di tahun-tahun kemudian, perubahan di dunia Islam mengakibatkan munculnya sejumlah serangan baru ke wilayah Kristen di Tanah Suci. Warga lokal meminta bantuan militer pada Barat, tapi cuma sedikit bangsa Eropa yang tertarik untuk melakukan kampanye besar. Satu orang yang sekali lagi mau memanggul beban adalah Louis IX. Namun kampanye yang dia lakukan kali ini mencapai kurang dari apa yang dicapai sebelumnya bagi Kerajaan Yerusalem.

Tidak diketahui mengapa Tunisia di Afrika Utara dijadikan saran awal. Setelah disana, wabah mengambil nyawa banyak orang, termasuk Louis yang saleh. Saudaranya, Charles Anjou, tiba dengan kapal-kapal Sisilia dan berhasil mengungsikan sisa pasukan.

Meskipun ini adalah Perang Salib terakhir, ini bukanlah ekspedisi militer terakhir yang bisa disebut sebagai Perang Salib. Kampanya terus diserukan atas berbagai sasaran (bukan hanya Islam) oleh pasukan Salib – orang yang berkaul untuk melakukan perang.

Umat Kristen di Palestina ditinggalkan tanpa bantuan lebih lanjut. Meskipun mengalami kekalahan terus menerus, Kerajaan Yerusalem tetap bertahan sampai 1291, ketika akhirnya musnah. Umat Kristen masih tetap hidup di daerah tersebut bahkan setelah kejatuhan Kerajaan Yerusalem. 

Raja Perancis, St. Louis IX memimpin dua Perang salib dalam hidupnya. Yang pertama berhasil menguasai Damietta di Mesir, namun pasukan Islam berhasil merebutnya kembali. Usaha kedua dihabiskan oleh St. Louis IX terutama untuk memperkuat pertahanan tanpa berhasil menguasai Yerusalem. Pada 1290, beliau berusaha menyerang Tunisia namun meninggal dalam perjalanan karena sakit dan usia tua. Pada tahun 1291, pasukan Islam berhasil mengusir pasukan Salib, Kerajaan Salib lenyap dari peta Timur Tengah. 

Mengapa Perang Salib gagal?

Pada zaman Perang Salib, pasukan Islam tumbuh menjadi kekuasaan adidaya dunia. Mereka mengusai perdagangan dan ilmu pengetahuan. Salah satu hal penting lainnya adalah pasukan Islam lebih bersatu dibandingkan kerajaan Eropa.

Sementara pihak lain menuding kelemahan iman bangsa Kristen Eropa, saya ingin melihat dari sudut yang lebih duniawi. Pasukan Salib berasal dari Eropa, menempuh perjalanan jauh hingga ke Timur Tengah. Saat itu, transportasi tidak sebagus sekarang. Korban jatuh dengan cepat selama perjalanan, entah karena kelelahan atau kecapaian. Medan pertempuran juga berbeda. Medan Eropa berupa hutan di mana kuda adalah suatu keuntungan sementara di Timur Tengah, medan perang berupa padang pasir panas di mana unta adalah keuntungan. Belum lagi peristiwa bodoh tenggelamnya Kaisar Barbarossa. Ini menandakan pasukan Salib tidak menguasai medan dengan baik. Sistem logistik belum berkembang. Pasukan Salib bertempur dengan baju zirah yang cocok di udara sejuk Eropa tetapi baju perang pasukan Islam yang simpel terbukti lebih cocok untuk udara gurun. Sering terjadi perdebatan kekuasaan antara pemimpin pasukan Salib yang baru datang dengan penguasa Kerajaan Salib yang sudah ada duluan. Ini disebabkan karena kerajaan Kristen Eropa bukan suatu kerajaan tunggal sehingga persaingan kuasa terjadi. Belum lagi, kudeta dan perang yang terjadi di daerah asal sementara sang raja berperang di Timur Tengah. Semua hal ini menyebabkan kekalahan pasukan Salib.

Perkembangan Lanjut

Pada tahun 1480, Sultan Mehmet II menguasai Otranto dan berniat menguasai Roma. Sultan ini meninggal tiba-tiba dan rencananya pun ikut meninggal bersama dengannya. Pada tahun 1529, Sultan Sulaiman The Magnificent mengepung Wina tetapi gagal merebutnya karena tidak membawa artileri yang memadai lantaran cuaca buruk.

Sementara itu Renaissance merebak di Eropa. Sekarang Eropa berkembang pesat, kekuatan ekonomi pasukan Islam berhasil diimbangi. Ancaman invasi Islam ditundukkan di Pertempuran Lepanto tahun 1571. Sejak saat itu, tidak ada lagi usaha signifikan dari Islam untuk menduduki Eropa. Saya akan menulis artikel terpisah mengenai Pertempuran Lepanto. Di Eropa sendiri terjadi perubahan. Reformasi Protestan terjadi. Mereka menyangkal keutamaan Paus dan doktrin indulgensi. Ini menyebabkan mimpi Perang salib terkubur dan tak pernah dipikirkan lagi.

Sekarang mengapa kaum Islam jengkel bila Perang Salib disinggung-singggung? Bukannya mereka yang menang? Sebenarnya orang Islam bergembira akan kemenangan mereka hingga abad ke-19, saat kolonialisme Eropa. Pada sejarawan saat itu mendengung-dengungkan Perang Salib sebagai kolonialisme Eropa pertama. Karena kolonialisme dibenci dan menimbulkan sakit hati, Perang Salib pun dibenci dan menimbulkan sakit hati. Yang tidak dimengerti adalah Perang Salib adalah usaha bertahan bangsa Eropa Kristen dari ancaman orang Islam yang merebut wilayah mereka, seperti yang dijelaskan di atas. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan kolonialisme. Juga tidak perlu terburu-buru meminta maaf kepada orang Islam mengenai Perang Salib. Toh mereka juga yang cari gara-gara duluan. Orang yang meminta maaf perlu mengerti akan hal apa yang dia mintai maaf. Perang Salib bukanlah kesalahan bangsa Kristen Eropa. Tidak perlu kita sekarang meminta para leluhur Kristen Eropa dikutuk. Perang Salib adalah bagian dari persaingan antara dua agama besar yaitu Kristen dan Islam. Persaingan ini telah bermula sejak abad ke 7 hingga sekarang. Perang Salib hanyalah letupan dari sesuatu yang mendidih di bawah permukaan. Meminta maaf atas Perang Salib memang suatu langkah yang mungkin dapat dipuji tetapi tidak akan dihargai oleh orang Islam. Lebih baik bila fakta sejarah mengenai Perang Salib tidak dilihat dalam kerangka benar-salah melainkan sebagai suatu fakta sejarah yang telah terjadi.

Kesimpulan

Istilah Perang Salib sendiri sering dipakai untuk hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan Timur Tengah. Contohnya Reconquista Spanyol sering disebut Perang Salib. Inkuisisi Abad Pertengahan terhadap kaum Cathar juga disebut Perang Salib. Perlawanan terhadap ajaran Jan Hus sekitar tahun 1415 juga sering disebut Perang Salib. Ada pula Perang Salib yang berhubungan dengan Timur Tengah tetapi tidak termasuk dalam ketujuh rangkaian di atas misalnya Perang Salib Alexandria 1365, Perang Salib Nikopolis 1396 dan Perang Salib Varna 1444. Perang Salib adalah usaha bangsa Kristen Eropa untuk membebaskan Timur Tengah dari cengkraman Islam. Para pasukan Salib adalah orang-orang saleh yang rela menanggung derita perang demi tujuan mulia. Meski kenyataannya Perang Salib tidak sukses besar, ini tidak berarti Tuhan meninggalkan Gereja Katolik. Tuhan dapat membawa kebaikan dari sesuatu yang nampaknya tidak baik. Perang Salib bukanlah kesalahan sejarah. Perang Salib adalah peristiwa Abad Pertengahan sehingga analisis mengenainya harus menggunakan kacamata Abad Pertengahan, bukan kacamata zaman modern. Perang Salib memang harus terjadi. Deus Vult.

Banyak sekarang di dunia barat memandang Perang Salib adalah agresi yang tidak bisa dibenarkan terhadap penduduk di Timur dan Tanah Suci. Namun, bahkan dengan sedikit pengetahuan atas abad yang lalu membuat pemikiran tersebut tidak bisa diyakini. Ini bisa dilihat jelas, sebagai contoh, dengan memutar balik peran dari kekuatan yang bertikai. Jika Perang terjadi di tengah-tengah masa dimana Kristen mengambil alih SEPARUH dari wilayah yang secara historis merupakan milik Islam. Maka orang tidak akan menyalahkan Islam yang berusaha untuk mengambil kembali daerahnya yang diambil Kristen yang didaerah tersebut terdapat banyak saudara seiman. (Note: tentu saja yang terjadi adalah sebaliknya. Islamlah yang melakukan kampanye besar-besaran dan mencaplok daerah yang awalnya Kristen). Sedikit yang akan berpikir bahwa Islam seharusnya tetap diam ketika Kristen mengambil kontrol dan menghalangi akses Islam di Kabah Mekah dan Kubah Batu dan Mesjid Al-Agsa di Yerusalem. Kita akan meng-ekspektasikan kalau Islam akan menyerang balik dan mengambil kendali tempat kudus mereka. (Note: sekali lagi ini adalah pembalikan/transposisi. Yang terjadi adalah Islam menguasai situs kudus Kristen dan menghalangi peziarah Kristen ke tempat kudus yang sudah sejak dulu milik mereka). Akal sehat mengajarkan pelajaran yang didapat dari Perang Salib, “Jangan menaklukkan setengah dari peradaban kelompok lain tanpa berpikir untuk menerima balasannya” dan “Jangan menyentuh situs kudus orang lain tanpa berpikir akan pembalasan”

Dan bukannya merasa malu terhadapa apa yang dilakukan pasukan Salib. Umat Kristen kontemporer seharusnya BANGGA bahwa terlepas dari pertikaian dari dalam mereka sendiri pada saat itu, umat Kristen jaman dulu akan melakukan apa yang dilakukan umat Islam sendiri jika mereka diposisikan (ditranspose) dalam posisi umat Kristen (Note: Maksudnya, baik Islam maupun Kristen, jika separuh peradabannya dijajah, situs kudusnya dikuasai dan ditutup akses umum, maka mereka akan melawan. Dan inilah yang terjapi kepada kaum Kristen yang separuh peradabannya dicaplok dan akses mereka ke tempat kudus dihalangi). Kaum Kristen saat ini tentu saja harus mengutuk tindakan jahat yang dilakukan selama Perang Salib, seperti pembantaian umat Islam dan Yahudi tak bersalah yang terjadi secara periodik, dan juga episode Perang Salib keempat yang menyedihkan. Meskipun begitu Perang Salib sendiri mempunyai dua tujuan pokok sebagai intinya: Pembelaan terhadap peradaban Kristen atas agresi dari luar (sehingga Perang Salib secara keseluruhan adalah perang bela diri) dan menjaga akses ke situs kudus tempat terjadinya peristiwa penting dalam sejarah Kekristenan (Makam Kristus etc). Juga akan sulit untuk menilai Perang Salib tanpa berpikir tentangnya dalam terang kejadian saat ini. Khususnya, orang akan berpikir apakah generasi orang Islam masa depan akan melihat masa ini dan berpikir apakah tindakan kampanye terorisme Islam adalah seperti apa adanya? Apakah suatu serangan terhadap mereka yang tidak bersalah, warga sipil bisa dibenarkan? Apakah orang Islam masa depan akan menganggap Jihad milenium baru sebagai “Perang Salib” yang tidak dibenarkan? dan apakah dunia Islam akan melakukan introspeksi dan menganggap Perang Salib sebagai respon yang bisa terprediksi atas agresi Islam jaman dulu?

Perang Salib Alexandria (1365)

Peter I menghabiskan waktu tiga tahun (1362-1365) untuk mengumpulkan pasukan dan mencari dukungan keuangan untuk ekpedisi Perang Salib ke Mesir. Ia mempelajari rencana penyerangan Mesir terhadap kerajaan Siprus, ia menerapkan strategi yang sama yaitu perang preemptive yang telah begitu sukses melawan Turki dan mengarahkan ambisi militernya untuk melawan Mesir. Dari Venice, ia mempersiapkan armada angkatan laut dan pasukan darat di benteng pasukan Salib di Rhodes, di mana mereka telah bergabung dengan Ksatria Ordo St. John.

Pada 1362 ia berangkat ke Eropa Barat dalam mencari dukungan untuk Perang Salib yang lebih besar, tugasnya agak lebih mudah karena Perang Seratus Tahun antara Inggris dan Perancis sudah selesai setelah adanya Perjanjian Brétigny antara monarki Perancis dan Inggris di tahun 1360. Pada tahun 1365 Peter mengumpulkan pasukan dari Perancis, Inggris, Siprus, Ksatria Hospitaller, dan pasukan lainnya. Jumlah kekuatan pasukan diperkirakan sebesar 165 kapal, 10.000 orang, dan 1.400 kuda, yang disiapkan dari pulau Rhodes. Ini adalah pasukan yang besar jika dilihat dari kondisi pulau Rhodes saat itu, namun terlalu kecil untuk membuat dampak jangka panjang yang serius. Tujuan ekspedisi dirahasiakan sampai setelah itu meninggalkan Rhodes pada tanggal 4 Oktober.

Pasukan Salib tiba di Alexandria pada 9 Oktober. Mereka melakukan serangan besar di hari berikutnya dan menemukan sebagian dari dinding benteng kota tanpa pertahanan, dengan pengawasan yang efektif akhirnya kota itu jatuh di tangan tentara Salib malam harinya. Penjarahan atas kota tersebut terus terjadi selama tiga hari. Tujuh puluh atau lebih kapal penuh terisi dengan barang jarahan dan 5.000 tawanan ditempatkan di kapal lainnya. Dua dari tiga gerbang kota juga hancur, sebuah hadiah yang besar untuk tentara salib atas usaha mereka.

Menghadapi posisi yang tidak bisa dipertahankan, pasukan Peter secara permanen mundur pada tanggal 12 Oktober. Peter ingin tinggal dan mempertahankan kota dan menggunakannya sebagai tempat berpijak lebih lanjut untuk melanjutkan kampanye Perang Salib ke Mesir, namun sebagian besar baron menolaknya, mereka hanya ingin meninggalkan kota dengan hasil jarahan mereka. Peter sendiri adalah orang terakhir yang meninggalkan kota itu ketika pasukan Mamluk memasuki kota. Raja dan baron di Eropa terpukul oleh ditinggalkannya kota Alexandria. Peter I disebut sebut sebagai satu-satunya Kristen yang baik dan berani dalam perang Salib di Alexandria.

Perang Salib Nikopolis (1396)

Di 1393, tsar Bulgaria Ivan Shishman telah kehilangan Nikopolis, (ibukota sementara) ke tangan Otoman Turki, sementara saudaranya, Ivan Stratsimir, telah menjadi pengikut Ottoman. Di mata para bangsawan Bulgaria, ia adalah penguasa Balkan yang independen, ini adalah kesempatan besar untuk membalikkan jalannya invasi Ottoman dan membebaskan Balkan dari pemerintahan Islam. Selain itu, garis depan antara Islam dan Kristen telah bergerak perlahan menuju Kerajaan Hongaria. Kerajaan Hongaria kini menjadi perbatasan antara kedua agama di Eropa Timur, dan Hungaria berada dalam keadaan bahaya untuk diserang. Republik Venesia takut bahwa kontrol Ottoman dari semenanjung Balkan, yang termasuk wilayah Venesia seperti bagian dari Morea dan Dalmatia, akan mengurangi pengaruh mereka atas Laut Adriatik, Laut Ionia dan Laut Aegea. Republik Genoa, di sisi lain, takut bahwa jika Ottoman akan mendapatkan kontrol atas Sungai Danube dan Turki Straits, mereka akhirnya akan mendapatkan monopoli atas rute perdagangan antara Eropa dan Laut Hitam, di mana Genoa memiliki banyak koloni penting seperti Caffa, Sinop andAmasra. Genoa juga dimiliki benteng Galata, yang terletak di utara Golden Horn di Constantinople, yang Bayezid telah mengepung sejak 1395.

Tahun 1394, Paus Bonifasius IX memproklamirkan perang Salib baru melawan Turki, meskipun saat ini Skisma Barat telah membagi kepausan dalam dua, dengan paus saingan di Avignon dan Roma, dan hari-hari ketika seorang paus memiliki kewenangan untuk memanggil perang Salib sudah berlalu. Namun demikian, Inggris dan Perancis sepakat untuk gencatan senjata di Perang Seratus Tahun, dan Richard II dan Charles VI bersedia bekerja sama untuk membiayai perang Salib. Negosiasi Perancis untuk perang Salib bersama dengan Sigismund, Raja Hungaria dan Kaisar Romawi Suci, telah berlangsung sejak tahun 1393.

Rencana awal adalah untuk John dari Gaunt, Louis dari Orleans, dan Philip Bold, Duke of Burgundy, meninggalkan tahun 1395, dengan Charles dan Richard mengikuti mereka tahun depan. Pada awal 1396 rencana ini telah ditinggalkan. Sebaliknya, John dari Nevers memimpin pasukan sekitar 10.000 pasukan Perancis , sebagian besar kavaleri dari Burgundy, dengan pasukan Inggris sekitar 1.000 orang. Ada juga sekitar 6.000 orang dari Palatinate, Bavaria, dan Nuremberg. Namun sumber lain mengatakan jumlah pasukan yang dibawa John kurang dari 8.000 orang. Ini berarti bahwa Sigismund berkontribusi antara 8.000 dan 6.000 orang dari tanah Hungaria, dengan total 16.000 pasukan. Pasukan Perancis berangkat dari Montbéliard pada bulan April 1396, tiba di Wina pada Mei dan Juni, dan bergabung dengan Sigismund di Buda pada bulan Juli. Meskipun ia Ortodoks, Mircea the Elder, Pangeran Wallachia, juga berpartisipasi dengan kekuatan besar di Perang Salib. Kerajaannya sekarang merupakan perbatasan antara Kristen dan Islam.

Wallachia (seperti Moldavia) akrab dengan strategi pertempuran Ottoman, seperti Mircea yang ditimbulkan beberapa pukulan ke Bayezid yang sama pada Pertempuran Karanovasa, Pertempuran Rovine dan pertempuran Karvuna di tahun 1395. Johann Schiltberger, seorang pasukan Salib Bavarian yang menjadi tahanan di Nikopolis, kemudian menjelaskan dalam memorinya konflik yang diangkat oleh ketidaksepakatan untuk memilih antara dua taktik perang yang berbeda: bahwa tentara Salib ‘, dengan curah pasukan dibentuk oleh lambat, kavaleri berat biasanya dari Barat, dan bahwa dari Mircea, yang, sebelum pertempuran, meminta Sigismund untuk melaksanakan misi pengintaian, untuk mengevaluasi status musuh’, dan untuk menyimpulkan strategi optimal. Sigismund setuju, dan Mircea meminta komando pasukan Salib untuk menjadi yang pertama untuk menyerang, setelah melakukan misi pengintaian sendiri dengan pesta cahaya kavaleri Wallachia. Sigismund rela menyetujui, namun usulan itu ditolak oleh John dari Nevers dan ksatria Barat lainnya, yang menolak setiap perubahan dalam taktik tradisional (Nevers sendiri menjadi kehormatan untuk menjadi yang pertama untuk menyerang, karena ia melakukan perjalanan jarak yang sangat jauh, dan telah menghabiskan banyak uang dalam ekspedisi).

Nevers mengambil komando angkatan gabungan dan berbaris selatan menuju Nikopolis. Pedesaan dijarah sepanjang jalan oleh pasukan Salib dan kota Rahovo juga ikut dijarah, penduduknya dibunuh atau diambil sebagai tawanan. Sejumlah pasukan Ottoman minor juga ditangkap.

Kota ini sudah baik dari segi pertahanan maupun suplai, dan pasukan Salib tidak membawa menara pengepungan. Namun demikian mereka yakin bahwa pengepungan benteng akan menjadi awal hanya untuk jadi dorongan utama dalam menghilangkan Konstantinopel dan tidak percaya bahwa Bayezid I akan tiba begitu cepat untuk memberi mereka pertempuran nyata. Sultan Bayezid I, sudah sibuk dengan pengepungan sendiri di Konstantinopel, mengumpulkan pasukannya dan berbaris menuju Nikopolis. Pengikut-Nya Stefan Lazarevic dari Serbia (yang berada di bawah kendali Ottoman sejak pertempuran Kosovo tahun 1389) bergabung dengannya di jalan, dan mereka tiba pada 24 September, dengan sekitar 20.000 orang. Bayezid I diperingatkan oleh Gian Galeazzo Visconti tentang pergerakan pasukan Salib ‘.

Memasuki wilayah Turki (Agustus) pasukan salib mengepung Nikopolis, benteng Turki utama di Sungai Danube. Sementara mereka menunggu untuk persediaan logistik, Bayezid dan pasukannya berbaris dari Konstantinopel dan berkumpul di sebuah bukit beberapa mil dari Nikopolis.

Meskipun Sigismund mendesak sekutu-sekutunya untuk mempertahankan posisi bertahan, para ksatria tetap menyerang dari atas bukit dan membuat baris pertama dari kavaleri dan infantri berhamburan. Mereka menunggu Bayezid bersama dengan kontingen kavaleri lain yang diperkuat oleh pasukan Serbia, dan pada saat itu para ksatria Barat menggunakan baju lapis baja yang berat sehingga mereka terlalu lelah untuk melawan secara efektif. Sigismund, yang tentaranya tidak berpartisipasi dalam serangan awal, mencoba untuk menyelamatkan ksatria2 lainnya, tapi pasukan Walachia dan Transylvania desersi dan pasukan Hungaria-nya tidak mencukupi. Turki membalas menyerang pasukan Salib yang kelelahan dan membantai sebagian besar pasukan salib dan memaksa sisa pasukan Salib kembali ke Danube.

Meskipun sebagian kecil dari sekutu militer, termasuk Sigismund, melarikan diri tapi sebagian besar korban ditangkap dan dieksekusi oleh Bayazid. Pada tanggal 26 September, Bayezid memerintahkan antara 3.000 sampai 10.000 tahanan untuk dibunuh, sebagai pembalasan atas pembunuhan para tahanan Ottoman di Rahovo oleh Perancis. Dia juga marah bahwa ia telah kehilangan begitu banyak pria, terutama pada tahap awal pertempuran, meskipun kemenangannya secara keseluruhan. Sigismund  melarikan diri dengan Nikola Gorjanski dan Herman dari Cilli, dan ia mengambil rute laut kembali ke rumah di sebuah kapal Venesia melalui Laut Hitam, Laut Aegea, dan Mediterania, mencurigai Wallachians pengkhianatan. Charles VI diberitahu dari kekalahan di hari Natal.

Dengan kemenangan mereka di Nikopolis, Turki memperkecil pembentukan koalisi Eropa melawan mereka. Mereka meningkatkan tekanan mereka pada Konstantinopel, memperketat kontrol mereka atas Balkan, dan menjadi ancaman yang lebih besar untuk Eropa Tengah.

Ksatria Eropa Barat segera kehilangan antusiasme mereka untuk Perang Salib. Pertempuran terus berkecamuk di Spanyol dan Mediterania, dan di antara orang-orang kafir dari Eropa Utara, tetapi tidak ada ekspedisi baru diluncurkan dari Eropa Barat untuk menghentikan kemajuan Turki di Balkan setelah kekalahan ini, sampai periode Renaissance.

Inggris dan Perancis segera memperbaharui perang mereka. Wallachia melanjutkan sikap melawan Ottoman, setelah berhenti pada ekspedisi lain di tahun berikutnya, 1397, dan pada tahun 1400 belum ada ekspedisi lain dari Ottoman. Kekalahan Sultan Beyazid I oleh Timur (Tamerlane) di Ankara pada musim panas 1402 dibuka periode anarki di Kekaisaran Ottoman dan Mircea mengambil keuntungan dari itu untuk mengatur bersama-sama dengan Kerajaan Hongaria kampanye melawan Turki. Hongaria dan Polandia dikalahkan di Pertempuran Varna di 1444, dan Konstantinopel akhirnya jatuh pada tahun 1453 ke Turki, diikuti oleh Despotate dari Morea di 1460 dan Kekaisaran Trebizond di 1461, yang membawa mengakhiri sisa-sisa terakhir dari Kekaisaran Byzantium serta kantong yang tersisa akhir perlawanan Yunani melawan Turki Ottoman baik di Balkan dan Anatolia.

Perang Salib Varna (1444)

Pertempuran Varna berlangsung pada 10 November 1444 di dekat Varna, Bulgaria timur. Angkatan darat Ottoman di bawah Sultan Murad II mengalahkan koaliasi Hungaria-Polandia dan pasukan Wallachian yang dipimpin oleh Władysław III dari Polandia (juga Raja Hungaria), John Hunyadi  (komandan pasukan koalisi Kristen) dan Mircea II Wallachia. 

Hungaria jatuh ke dalam krisis setelah kematian Raja Sigismund di tahun 1437. Anaknya Albert sebagai penerusnya memerintah selama dua tahun dan meninggal pada tahun 1439, meninggalkan seoarang janda Elizabeth dengan anak yang belum lahir, Ladislaus V. Para bangsawan Hungaria kemudian menunjuk Raja Władysław III dari Polandia untuk naik tahta Hungaria dan menerima bantuan pertahanan untuk melawan Ottoman. Setelah penobatannya sebagai raja Hungaria, ia tidak pernah kembali ke Polandia

Untuk mengantisipasi invasi dari Ottoman, Hungaria bekerjasama dengan Venesia dan Paus Eugene IV untuk membentuk pasukan Salib baru yang dipimpin oleh Hunyadi dan Władysław III. Mendengar berita ini, Mehmet II mengerti bahwa ia terlalu muda dan kurang berpengalaman untuk berhasil melawan koalisi ini. Dia menunjuk Murad II untuk naik tahta dan memimpin pasukan ke medan perang, tapi Murad II menolak. Marah pada ayahnya, yang telah lama pensiun untuk hidup kontemplatif di barat daya Anatolia, Mehmed II menulis surat, “Jika Anda adalah Sultan, datang dan pimpin pasukan Anda. Setelah menerima surat tersebut, Murad II setuju untuk memimpin pasukan Ottoman.

Pasukan koalisi Kepausan terdiri terutama dari Hungaria, Polandia, Bohemian (jika digabungkan berjumlah 15.000 orang) dan Wallachia (7.000 orang) serta dengan detasemen kecil dari Ceko, ksatria Kepausan, Ksatria Teutonik, Bosnia, Kroasia, Bulgaria, Lithuania dan Ruthenians (Ukraina).

Kapal-kapal Venesia dan Genoa telah memblokade Dardanella untuk mengangkut pasukan Hungaria menuju Varna, di mana mereka akan bertemu armada kepausan dan berlayar ke pantai menuju Konstantinopel dan mengusir Ottoman keluar dari Eropa. Kemajuan Hungaria sangat cepat, benteng Ottoman dilewati, sementara penduduk lokal Bulgaria dari Vidin, Oryahovo dan Nikopolis bergabung dengan pasukan Salib (Fruzhin, putra Ivan Shishman, juga berpartisipasi dalam kampanye ini dengan pasukan sendiri). Pada tanggal 10 Oktober di dekat Nikopolis, sekitar 7.000 pasukan kavaleri Wallachia di bawah Mircea II, salah satu putra Vlad Dracul, juga ikut bergabung. Pengungsi Armenia di Kerajaan Hungaria juga ikut ambil bagian dalam perang Salib melawan Ottoman pada awal pertempuran Varna di 1444, ketika beberapa orang Armenia terlihat di antara pasukan Kristen.

Tanggal 9 November, pasukan besar Ottoman yang berjumlah sekitar 50.000 orang mendekati Varna dari barat. Pada dewan militer yang diadakan Hunyadi, para wakil kepausan, kardinal Julian Cesarini, bersikeras untuk penyerangan cepat. Namun, terdapat orang-orang Kristen yang terjebak di antara Laut Hitam, Danau Varna, lereng berhutan curam dataran tinggi Franga (356 m) dan musuh. Cesarini kemudian mengusulkan pertahanan menggunakan Wagenburg dari Hussit sampai kedatangan armada Kristen. Para tokoh Hungaria, komandan Kroasia dan Cheznya mendukungnya, tapi Władysław dan Hunyadi menolak taktik defensif. Hunyadi menyatakan: “Untuk melarikan diri tidak mungkin, untuk menyerah tidak terpikirkan. Mari kita berjuang dengan keberanian dan menghormati tangan kita..” Władysław menerima posisi ini dan memberinya perintah. Andreas del Palatio menyatakan bahwa Hunyadi memerintahkan “pasukan Wallachian” yang terdiri dari sebagian besar orang Rumania sebagai pengawal pribadi Hunyadi.

Raja Władysław bergegas dengan 500 ksatria Polandia menuju pusat pasukan Ottoman. Mereka berusaha untuk menyerbu infantri Janissary dan mengambil Murad sebagai tahanan dan hampir berhasil, tapi di depan tenda Murad, Władysław terjatuh dari kuda dan raja tak berdaya dipenggal kepalanya oleh pasukan bayaran Kodja Hazar. Kepala raja Wladyslaw diberikan kepada Sultan dan kemudian dibawa ke pengadilan Ottoman. Hunyadi mencoba untuk menyelamatkan tubuh raja tapi dia hanya bisa mundur untuk mengatur  sisa-sisa pasukannya. Ribuan pasukan Salib menjadi korban dalam pertempuran tersebut. Banyak tahanan Eropa yang dibantai atau dijual sebagai budak. Baik kepala atau tubuh raja tidak pernah ditemukan.

Pertempuran Lepanto (1571)

Pertempuran Lepanto adalah pertempuran laut antara Ottoman Turki melawan Holy League pada tanggal 7 Oktober 1571. Pertempuran ini terjadi di Gulf of Patras, Yunani, dekat markas Angkatan Laut Turki di Lepanto.

Perang Lepanto adalah perang yang paling decisive (menentukan) dalam sejarah perang Islam-Kristen. Pada saat itu, Turki sedang berada di masa jayanya. Jika mereka berhasil mengalahkan Holy League, Laut Tengah akan menjadi wilayah mutlak Turki dan kekristenan akan musnah dari seluruh Eropa. Tahun 1571, sebuah armada Turki yang luar biasa besar berlayar menuju Eropa. Sasarannya menaklukkan Kota Abadi Roma. Dari Barat dikerahkan sebuah armada kecil yang sederhana persenjataannya. Pasukan pilihan gabungan Spanyol, Venesia, dan pasukan kepausan disiapkan di Pantai Lepanto dekat Yunani. Dalam La Real yang berbendera Spanyol, Don John dari Austria tak dapat menghindar dari kapal Turki yang membawa komando tertinggi Sultan Ali Pasha. Hari itu 7 Oktober 1571.

Pada pertempuran ini, pasukan Turki sebenarnya punya keunggulan secara numerik. Turki punya 251 kapal dan 31.490 tentara, sementara Holy League hanya 208 kapal dan 22.840 tentara. Pasukan Turki sendiri memiliki 50.000 pelaut dan pendayung. Pendayung mereka merupakan para budak atau bahkan orang Kristen yang tertangkap. Armada Holy League sendiri berkekuatan 40.000 pelaut dan pendayung, yang mana untuk pendayung, sebagian besar terdiri atas orang-orang merdeka.

Namun, teknologi menjadi batas unggul di sini. Di Lepanto, pasukan Holy League sudah datang bertempur dengan musket dan arquebus mereka. Sedangkan Turki mengandalkan kekuatan bowmen mereka yang terkenal menakutkan bagi banyak pasukan. Selain itu, meski kalah dalam jumlah kapal, Pasukan Holy League membawa meriam lebih banyak. Terdapat 1.815 meriam di kapal-kapal Holy League. Sedangkan di tangan Turki, hanya ada 750 meriam di atas kapal-kapalnya. Itupun dengan kondisi peluru yang sudah menipis.

Pada awal pertempuran, pasukan Holy League telah menarik kapal Galleas setengah mil dari depan pasukan utama mereka. Pasukan Turki yang mengira kapal Galleas ini sebagai kapal merchant, segera menyerang mereka. Keputusan yang salah besar. Kapal-kapal Galleas ini merupakan kapal terbesar dengan meriam terbanyak. Pasukan Turki yang menyerang mereka segera dibantai oleh Galleasses. Ada yang bilang bahwa hanya dengan Galleases ini, 70 kapal Turki sukses ditenggelamkan. Serangan Turki ini mematikan untuk mereka sendiri. Serangan mereka kepada Galleas ini sukses membuat formasi Turki hancur, Turki kehilangan banyak kapal, dan semangat tempur turun. Kapal milik Sultan Ali Pasha juga berhasil direbut oleh Spanyol. Setelah Sultan Ali Pasha dipenggal, kepalanya dipertontonkan di atas flagship Spanyol. Sekarang, pasukan Turki hancur lebur, fisik maupun moral.

Pertempuran di Lepanto berakhir pukul 4 sore hari. Hasil akhir pada peperangan ini adalah kemenangan Holy League atas Kesultanan Turki. Pada saat pertempuran berakhir, pasukan Turki kehilangan 210 kapal. Dari 210 kapal tersebut, 117 Galleys, 10 Galliots, dan 3 Fustas menjadi milik Holy League. Di saat yang sama, The Holy League hanya kehilangan 50 kapal, 20 ditenggelamkan pasukan Turki, 30 lainnya ditenggelamkan sendiri.

%d bloggers like this: